banner blog



   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

"There is always some madness in love. But there is also always some reason in madness."

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




Monday, December 14, 2009
Yogyakarta

Hampir tiga bulan ini saya hidup di lingkungan yang berbeda dari sebelumnya. Bertemu dengan banyak orang baru yang bisa saya identifikasi sebagai orang yang bisa diajak berteman dengan tulus meski beroposisi dalam beberapa hal tertentu. Menapaki aktivitas baru yang menjadi rutinitas sekaligus pangkal kebosanan baru. Terkadang saya merindukan pola kehidupan sebelumnya, tapi terlalu naif jika saya membandingkannya dengan sekarang, karena toh ada banyak pengalaman baru yang saya dapatkan.

 

Di sini malam tetap panjang seperti sebelumnya, yang berbeda hanya saya seringkali mendapati diri terbangun menatap langit subuh beralaskan tegel di depan kamar kosan. Ada botol-botol kosong berserakan dan sampah kulit kacang. Tidak jarang juga terbangun karena bau sulingan alkohol yang termuntahkan tubuh. Hal yang memuakan ialah mesti terbangun karena alarm berbunyi keras menyuruh saya bergegas mandi lalu mengarahkan diri ke tempat otak dijejali konsep-konsep bagaimana menguasai orang.

 

Ternyata memahami hal lain yang sebelumnya tidak terbayangkan adalah sesuatu hal yang begitu menarik untuk saya sekarang ini. Berada dalam keadaan yang mengharuskan saya menelusuri lebih jauh perbedaan-perbedaan dan keunikan dari ide, wacana, dan dinamika dari setiap hal yang ditemui. Baik latar belakang, tujuan, atau prinsip yang berbeda membentuk keragaman sekaligus pelajaran akan pemahaman daripada memperlakukan diri sebagai seseorang yang terus-terusan merasa paling “berbeda” dari orang lain. Setiap orang berbeda dan saya pun berbeda, tapi seringkali mengekploitasi kebedaan jadi hambatan untuk mengeksplorasi kenapa perbedaan itu terjadi.

 

Tempat saya belajar sekarang dipenuhi bermacam orang dari latar belakang pengalaman politik yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang berasal dari daerah konflik, pemuka agama, birokrat, wakil rakyat ataupun petinggi partai. Ada anak ingusan macam saya dan ada orang yang jauh lebih dewasa secara umur. Semuanya berada dalam satu kelas sehingga memunculkan keramaian saat diskusi dan debat yang tidak bisa berhenti jika tidak distop oleh dosen.

 

Saya bisa lebih memahami orang lain meskipun ia berasal dari kondisi yang sebelumnya paling saya benci. Mungkin saya beruntung karena tidak lagi asal sinis dengan pendirian orang lain. Kami bisa saling bercengkerama hangat dalam suasana keakraban meskipun begitu tiap orang menyimpan rahasianya masing-masing. Teman saya bilang tiap orang punya misterinya sendiri. Mungkin kartu-kartu truff ini akan terbuka semuanya jika suatu hari nanti kami mesti saling berhadap-hadapan dengan aturan main yang berbeda.

Posted at 01:26 am by rylsick
Make a comment  

Wednesday, April 22, 2009
Wawancara bersama Ravi Grover

Ravi Grover adalah salah satu kolumnis di zine hc/punk HeartattaCk (sekarang berganti nama menjadi Give Me Back). Wawancara ini dilakukan pada akhir 2008 melalui email. Awalnya wawancara ini akan dimasukan dalam edisi kedua newsletter pribadi saya, Samsara. Namun karena kemalasan saya untuk menerbitkannya dalam versi cetak, jadi saya publish saja di blog ini. -rylsick

 

Saya mengenal kamu sebagai kolumnis di Heartattack (HaC). Jadi, bisakah kamu ceritakan bagaimana kamu terlibat sebagai kolumnis di HaC? Dan apa aktivitas kamu sekarang?

Awalnya saya menulis sebuah artikel berjudul “The War on Immigrant” untuk La Resistencia (www.bluetrianglenetwork.org). Saya pikir LR tidak menerbitkan zine mereka, jadi saya kirimkan ke HaC. Sebelumnya saya juga telah menulis artikel tersebut untuk Clamor Magazine (clamormagazine.org/issues/19/index.php). Kemudian salah satu editor dari HaC menyukai apa yang saya tulis dan meminta saya menjadi seorang kolumnis reguler.

 

Saya juga membuat zine saya sendiri dan menulis untuk beberapa zine-zine kecil sebelum HaC. Sekarang saya sedang mengerjakan beberapa artikel dan mengumpulkan sumber informasi untuk sebuah buku sejarah. Saya juga menulis satu bagian berjudul “Defending Dharma : Why Hindus Should Support The Tibetan Cause” pada Mei 2008 untuk sebuah majalah online (www.hinduyuva.org/tattva-blog/2008/05/hindus-tibet/). Kami juga mencetak sebuah pamflet yang merupakan gabungan dari tiga kolom yang saya tulis di HaC, berjudul “Culture Theft”. Tulisan tersebut mengenai bagaimana scene punk kulit putih telah mencuri budaya dari orang-orang kulit berwarna untuk fashion, musik, dll.

 

Beberapa tahun lalu, kolom kamu di HaC diboikot oleh Kent McClard. Tolong ceritakan kejadiannya? Kenapa setelah kejadian tersebut kamu masih menulis untuk HaC? Dan bagaimana hubungan kamu dengan orang-orang di HaC?

Haha. Sungguh lucu ketika hal itu terjadi. Baiklah saya akan menceritakan latar belakang kejadian itu. Saya menulis di sebuah isu HaC di mana scene begitu terlalu banyak mengkritisi Rage Against The Machine. Argumen saya adalah bahwa RATM menggunakan uang dan kepopuleran mereka untuk menolong orang-orang. Setelah saya menulis itu, lalu Kent McClard mengirim email dan memberi tahu saya bahwa dia tidak setuju dengan kolom saya tersebut. Kemudian saya membalasnya dan menerangkan bagaimana pandangan saya. Setelah kolom ini diterbitkan, saya terlibat debat dengan beberapa pembaca HaC. Dari pembicaraan tersebut saya merubah opini saya dan memutuskan bahwa saya telah salah dalam menilai RATM.

 

Akan tetapi, dalam waktu yang sama saya melihat sesuatu yang aneh, anak-anak punk yang berdiskusi dengan saya tersebut kemudian menjadi sangat marah terhadap sebuah band. Beberapa dari anak punk ini menyatakan bahwa korporat-korporat musik sebagai HAL YANG PALING JAHAT, dan MASALAH PALING PENTING untuk kita lawan. Kita tidak seharusnya mendukung band-band korporat (baca : band mayor-red), tetapi ada permasalahan lain yang harus kita selesaikan terlebih dahulu. Ketika saya menanyakan bagaimana pendapat mereka tentang penghancuran lingkungan, diskriminasi perempuan, atau kemiskinan, mereka selalu  mengatakan bahwa masalah-masalah tersebut perlu dipecahkan. Akan tetapi, mereka tidak begitu marah seperti ketika mereka membicarakan band-band korporat.

 

Lalu saya mulai berpikir : Tidakkah kita harus marah ketika hidup orang-orang dihancurkan? Salah seorang punk yang berumur 30-an, memberitahu saya bahwa ia begitu marah dan geram ketika melihat band-band punk di MTV. Lalu saya sarankan agar ia berhenti menonton acara-acara musik dan menonton acara berita saja. Bagaimana perasaannya ketika menonton video yang menayangkan tubuh-tubuh yang mati, atau orang-orang yang terbunuh karena perang? Bagaimana perasaannya menonton tayangan di mana orang-orang terkena represi oleh polisi? Hal ini adalah saran saya untuk semua punk yang begitu emosi dan marah dengan MTV. Jika kamu marah dengan band-band korporat, lalu bagaimana pendapat kamu dengan perasaan orang-orang yang mendapat aksi kekerasan?

 

Ketika sebuah band sign dengan sebuah mayor label, hal tersebut tidaklah menghancurkan hidup siapapun. Hal itu tidaklah merampas hak asazi manusia atau mengangggu kedamaian. Tetapi ketika korporat mencuri tanah dari orang-orang pribumi, hal tersebut menyakiti kehidupan mereka. Ketika sebuah pemerintahan mengeluarkan sebuah hukum yang melarang orang-orang untuk protes, hal tersebut telah mengganggu kebebasan orang-orang. Saya tidak merasa menyesal terhadap scene punk yang begitu marah dan membenci “mainstream”. Ada banyak permasalahan lain di dunia ini yang menurut saya lebih penting.

 

Setelah diskusi tersebut, saya menulis kolom yang mengkritisi scene yang fokus terhadap band-band korporat. Setelah dikirimkan ke HaC, kolom itu ternyata diboikot dan hanya dipublikasikan secara online. Ada dua hal keliru yang Kent McClard katakan. Pertama, Kent menulis pada saya “beberapa email personal” yang isinya memberitahu saya bahwa RATM begitu buruk. Hal itu tidaklah benar. Kent hanya mengirim sebuah email, dan saya membalasnya satu. Jadi hanya dua pengiriman email antara kami berdua. Mungkinkah ia berbohong tentang ini semua untuk publisitas HaC? Saya tidak yakin dengan alasan dia. Kedua, Kent mengklaim bahwa ia memboikot kolom saya karena saya memberitahu scene untuk mendukung korporat dan memberikan uang mereka untuk band-band besar. Saya tidak pernah mengatakan hal ini. Satu hal yang saya ulangi ialah seharusnya orang-orang fokus dalam isu-isu kemanusiaan daripada berkutat dengan musik. Saya pikir ada sisi baik dengan diboikotnya kolom saya. Tulisan saya mendapatkan publisitas yang bagus dan saya tidak mendapatkan komplain apapun.

 

Saya memilih terus menulis untuk HaC karena saya pikir suara-suara di scene sangat tidak berimbang. Kebanyakan penulis, editor zine, dan pemilik record label adalah lelaki Amerika kulit putih. Dan juga kebanyakan juga orang-orang di scene punk (termasuk punk di negara dunia ketiga) mengikuti dan belajar dari mereka. Saya ingin menawarkan perspektif yang berbeda.

 

Seberapa penting etika DIY untuk scene HC/Punk? Dan maukah kamu menjelaskan apakah DIY bisa menjadi sebuah alternatif seperti ketika krisis ekonomi global sekarang?

Hal tersebut sangat penting ketika scene dimulai. Saya pikir DIY adalah sebuah langkah kecil dalam mengambil kontrol sebuah level personal selama krisis ekonomi, tetapi hal itu hanyalah sebuah bagian kecil dari solusi. Saya pikir, satu hal yang salah ialah ketika punk di Amerika Utara mengklaim bahwa jika kamu mempraktekan DIY maka kamu sedang melawan korporasi. Saya membaca sebuah email dari seorang punk amerika yang mengatakan bahwa “kita bisa tertawa dihadapan muka para kapitalis dengan menempatkan musik DIY”. Saya tidak setuju dengan hal ini. Sebagian besar orang miskin telah mempraktekan DIY, mereka membuat rumah, pakaian, dan menanam makanan mereka sendiri.

 

Apa yang terjadi ketika orang-orang/pemerintah/korporasi ingin mencuri tanah mereka atau mempergunakan anak-anak sebagai buruh murah? Apakah mempraktekan DIY dapat menghentikan eksploitasi kapitalis? Tidak sama sekali. DIY tidak akan membawa equality atau menciptakan keseimbangan antara si kaya dan si miskin. Solusinya ialah mengorganisir masyarakat, membangun aliansi, dan menghadapi siapa pun yang merugikan masyarakat – itu semua untuk menambah praktek DIY.

 

Saya dengar kamu menulis sebuah buku tentang Sejarah Asia Selatan, kalau begitu saya ingin mengetahui tentang hal tersebut (proses dan sumber sejarah yang kamu temukan)? Dan mengapa kamu menulis itu? saya pernah belajar sejarah di universitas selama lima tahun, dan sadar jika sejarawan adalah pekerjaan yang mengagumkan seperti yang Indiana Jones lakukan di filmnya.haha.

Sejarah Asia Selatan adalah sebuah subjek yang menarik bagi saya setelah saya mulai mempelajari Sejarah Afrika. Untuk waktu yang begitu lama, sejarawan barat menyatakan bahwa peradaban dunia kuno yang hebat dimulai oleh orang kulit putih. Mereka mengatakan bahwa piramida di Mesir dan Ethiopia dibangun oleh orang-orang kulit putih – sampai terungkap bahwa orang-orang Afrika kulit hitam lah yang membangun peradaban ini.

 

Ada sebuah teori yang dikemukakan oleh seorang Jerman yang mengatakan bahwa peradaban di India dimulai setelah terjadinya penaklukan oleh Arya kulit putih. Bangsa Arya lah yang memperkenalkan bahasa, agama, dan sastra untuk bangsa India yang bodoh dan terbelakang. Teori ini masih dipercayai hingga kini oleh banyak orang yang juga percaya bahwa orang India adalah keturunan orang kulit putih (hal ini telah nyata terbukti salah bahwa justru kebanyakan orang India mempunyai kesamaan DNA dengan orang Afrika). Tidak ada satu pun bukti yang menyatakan bahwa invasi orang kulit putih dan peradaban India adalah salah satu kebudayaan tertua di bumi.

 

Kenapa sejarawan barat berbohong kepada dunia tentang hal ini? Karena mereka ingin kita berpikir bahwa kita adalah orang-orang negara dunia ketiga yang primitif yang memang seharusnya dikolonialisasi dan diberadabkan oleh mereka. Kenyataannya adalah ketika kota-kota dan universitas tumbuh pesat di Afrika, Asia, dan bahkan di Amerika Latin, Eropa masih berkembang dan mencoba untuk berhubungan dengan dunia. Jika tidak ada satu pun orang Persia, Ethiopia, India, Cina, Arab, dll yang mengajarkan orang Eropa mengenai matematika, astronomi, arsitektur, atau menulis/membaca, maka tidak akan ada peradaban Romawi atau Yunani.

 

Ketika Eropa mengalami zaman kegelapan, peradaban di belahan dunia lainnya tengah mengalami perkembangan pesat dalam pendidikan dan perdagangan. Orang-orang di Harrapa telah mempraktekan yoga, membangun kota dengan sistem pengairan, pengobatan, dan ilmu perbintangan. Jalur Sutra terbentang antara Cina melewati Asia Selatan, Timur Tengah dan sampai Afrika, dengan beragam orang yang berdagang dan dengan beragam bahasa. Terdapat referensi dalam Injil yang menyatakan bahwa Raja Solomon (Sulaeman-red) mengimpor kayu sandal ke kuilnya di Ethiopia. Kayu Sandal hanya ada di India, dengan begitu hal ini menunjukan bahwa telah ada komunikasi antara orang-orang di seluruh dunia. Di Meksiko, terdapat peninggalan-peninggalan patung Afrika, Cina dan India, yang membuktikan bahwa telah ada interaksi jauh sebelum Columbus, dan jauh sebelum barat mengkolonialisasikan dunia.

 

Ada banyak buku-buku politik yang mendiskusikan pergerakan kemerdekaan India melawan Inggris atau penggerakan di tahun 1960-an di seluruh dunia adalah di mana orang-orang kulit hitam memberontak melawan rasisme. Hal ini penting untuk dibaca mengenai rasisme. Sejarawan barat berusaha meyakinkan kita bahwa orang kulit putih membawa dunia bersatu setelah kolonialisasi dan bahwa orang-orang asli Afrika, Asia, dan Amerika tidak pernah saling mengetahui satu sama lain. Hal ini sama sekali tidak benar. Yunani, Romawi, dan Arya, bukan satu-satunya yang beradab dan memperadabkan dunia. Ini perlu diteliti lebih lanjut.

 

Pertanyaan ini tentang Hare Khrisna. Maukah kamu menjelaskan, moralitas (atau hanya fashion) dari Hare Khrisna yang dicuri oleh HC/Punk di AS?

Hare Krishna menjadi begitu fashionable pada tahun 90-an ketika band seperti Shelter dan 108 menjadi terkenal. Banyak dari fans kulit putih mereka memutuskan memulai mengenakan tasbih dan membawa Bhagavad Gita. Mengenakan benda-benda sakral (seperti tasbih Rudaksha atau kaos bergambar Khrisna) adalah sangat tidak hormat. Sangatlah tidak hormat sekali dengan mengubah sejarah, budaya, dan kepercayaan sebuah bangsa menjadi hanya sekadar fashion.

 

Jika anak-anak kulit putih tertarik dengan Hindu, maka mereka dapat membaca buku. Tetapi mereka malah menghabiskan uang mereka untuk fashion yang seharusnya dapat dipergunakan untuk menolong kemiskinan di Asia Selatan. Atau mereka dapat mendonasikan uang mereka untuk organisasi-organisasi di negara-negara dunia pertama yang mempromosikan hak asazi manusia untuk kepercayaan minoritas seperti Sikh, Hindu, dan Islam. Ada banyak orang dari Asia Selatan dan Arab yang diserang dan terbunuh setelah kejadian 9/11. Orang-orang kulit putih yang mengetahui bahwa orang-orang ini haruslah ditolong, bisa dengan memberikan penyuluhan bagi orang kulit putih lainnya yang ingin menyerang minoritas. Hal tersebut lebih baik daripada menghabiskan uang mereka untuk fashion. 

 

Apa pendapat kamu mengenai hegemoni hc/punk AS terhadap scene hc/punk di negara dunia ketiga? Apakah hegemoni tersebut didukung oleh logika “mainstream”?

Kita seharusnya tidak melihat orang kulit putih Amerika/Eropa untuk kepemimpinan ataupun inspirasi. DIY eksis di seluruh dunia jauh sebelum punk kulit putih menemukan istilah DIY. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita mempunyai peradaban yang begitu maju sejak beribu-ribu tahun lalu. Jika tidak ada orang Afrika, Asia, dan orang asli Amerika, maka orang kulit putih tidak akan dapat belajar bertahan di Eropa dan Amerika. Kebanyakan orang-orang dunia ketiga bertahan dengan DIY jauh sebelum kolonialisasi. HC/Punk dunia ketiga tidak memerlukan HC/Punk dari dunia pertama untuk membantu mengorganisir scene mereka atau belajar tentang rekaman atau clothing DIY.

 

Bagaimana hal ini menghentikan penghancuran dunia ketiga? Apakah hal tersebut membantu orang-orang yang tertindas? Negara dunia pertama tidaklah memahami pengalaman negara-negara dunia ketiga. Sebagai contoh, punk kulit putih di negara dunia pertama yang menolak pendidikan tidak dapat memahami bagaimana seseorang di negara dunia ketiga bisa buta huruf dan tidak mendapat pendidikan yang layak. Kondisi mereka tidaklah sama.

 

Masalah lainnya ialah orang-orang yang ingin “membawa punk ke seluruh dunia” atau “ingin mengajarkan DIY”. Lihatlah seperti di India yang terdapat 300 juta orang miskin yang dalam satu harinya menghasilkan kurang dari $1 dollar. Apakah musik punk amat penting ketika kebanyakan orang tidak dapat membeli rekaman, gitar ataupun pakaian?

 

Pertama, menangani masalah adalah hal yang lebih penting : melawan kemiskinan, persamaan gender, memperbaiki pendidikan. Ketika permasalahan ini telah bisa ditangani, dan masyarakat telah mendapatkan makanan dan pakaian yang layak, maka kamu baru bisa berbicara tentang musik (yang mana begitu mewah).

 

Hal menganggu lainnya ialah punk-punk dari negara pertama yang ingin mengunjungi negara dunia ketiga untuk “mengajarkan DIY”. Orang-orang negara dunia ketiga tidaklah bodoh, dan tidak perlu diajari oleh orang barat. Seperti salah satu contohnya ialah ketika seorang teman saya mengatakan bahwa orang-orang belajar mengenai isu vegetarianisme melalui band HC yang bernyanyi mengenai animal rights. Tipikal punk seperti dia percaya bahwa HC diperlukan untuk mengajari orang-orang di seluruh dunia.

 

Padahal lebih dari 2500 tahun lalu, Budha berkelana melewati Nepal dan India sambil mengajarkan bagaimana menghargai binatang. Hindu yang lebih tua 5000 tahun juga mempromosikan ide-ide vegetarianisme. Di Afrika terdapat tradisi seni yang bisa dikatakan DIY. Para pengamen berkelana dari desa ke desa dan menyanyikan lagu atau memainkan instrumen – semuanya dengan etika yang kini dikenal sebagai DIY. Mengapa kita harus belajar dari scene HC/Punk barat yang hanya berusia 30 tahun ketika orang-orang kulit berwarna telah mengenal pengetahuan ini jauh lebih lama?

 

Sebelum terbunuh, Malcolm X mempromosikan ide-ide yang mengajak agar orang-orang negara dunia ketiga tidak memerlukan kepemimpinan dari orang kulit putih. Ia membangun persahabatan dengan bangsa-bangsa Afrika dan Arab untuk mendukung orang-orang yang terjajah. Hal seperti ini terjadi sebelum kolonialisasi – kerjasama antara beragam orang tanpa adanya superioritas salah satu pihak, dan setiap orang saling memperlakukan satu sama lain dengan sama.

 

Saran saya untuk anak-anak di Indonesia yang membaca zine ini adalah agar membangun pertemanan dengan orang-orang di negara dunia ketiga lainnya. Cobalah hubungi orang-orang/scene di negara lain di Asia dan Amerika, atau orang-orang kulit berwarna di Amerika Utara. Kamu akan menemukan kecerdasan, kearifan, dan ketulusan di antara orang-orang kulit berwarna di seluruh dunia sama seperti dengan yang kamu temukan pada punk kulit putih, bahkan lebih baik.

 

Di AS, orang-orang kulit putih berpikir bahwa AS adalah negara yang paling baik dan bertanggung jawab untuk memberadabkan orang-orang di belahan dunia lainnya. Mereka mempunyai kepentingan menyebarkan budaya barat ke seluruh dunia. Seorang teman saya mengunjungi keluarganya di Asia dan melihat juga scene punk di negara asalnya tersebut. Dia mengatakan bahwa ketika band-band kulit putih datang ke negaranya, mereka mendapat respect yang lebih daripada band yang berasal dari negara lainnya di Asia. Hal ini sungguh bodoh! Tolong JANGAN perlakukan orang asing berkulit putih seperti seorang raja, karena dengan begitu supremasi kulit putih akan berlanjut. Mereka terus berpikir bahwa orang-orang negara ketiga ada orang-orang yang tunduk dan orang kulit putih itu seperti mempunyai hak untuk berlaku layaknya rockstar.

 

Kalau begitu saya ingin menanyakan bagaimana pendapatmu mengenai Straight Edge yang hanya fokus pada animal rights tetapi tidak banyak memberikan perhatian pada masalah kemanusiaan atau kapitalisme? Apakah hal ini berkaitan dengan Hare Krisna yang saya tanyakan sebelumnya?

Saya adalah seorang yang bebas drug ataupun alkohol, dan juga seorang vegetarian, tetapi saya paham dengan pertanyaanmu. Kembali pada apa yang saya katakan sebelumnya tentang mengapa punk dunia ketiga seharusnya TIDAK mengekor pada punk kulit putih di negara dunia pertama. Punk-punk kulit putih tidaklah mempunyai masalah yang begitu nyata, sehingga mereka memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang tidak mengancam seperti musik. Sejak scene kulit putih tidak mempunyai masalah-masalah yang nyata, mereka dapat memilih permasalahan apa yang ingin mereka perhatikan atau enyahkan. Jadi, ada banyak anak kulit putih yang tidak mempedulikan kapitalisme tetapi hanya concern pada sxe dan animal rights.

 

Akan saya jelaskan masalah saya dengan Hare Krisna. Saya mempraktekan hindu, tetapi Hare Krisna tidak menyebut diri mereka Hindu. Mereka bilang mereka berpisah dengan Hinduisme. Mereka juga berusaha untuk menarik pengikutnya dari orang-orang kulit putih dan untuk mendapatkan uang mereka menjual buku, dll. Pendiri organisasi ini pernah berkomentar dalam buku-buku Hindu, yang mana saya tidak setuju dengan pendapatnya (terutama komentarnya mengenai perempuan).

 

Scene punk kulit putih tidak terlebih dahulu menelaah apa yang mereka lakukan. Jika sebuah band mengatakan suatu hal adalah keren, lalu scene akan fokus terhadap hal tersebut. Baik itu band-band, penulis zine, dan yang lainnya sebenarnya dapat menggunakan pengaruh mereka untuk mendorong scene melakukan sesuatu yang lebih positif, tapi mereka tidak melakukannya. Mereka hanya mendorong scene untuk fokus pada animal rights sekaligus tidak mempedulikan isu-isu kemanusiaan, atau mereka mendapatkan apa yang mereka curi dari budaya negara dunia ketiga tetapi mereka tidak menganalisa apa yang mereka curi itu. Saya ingin mengatakan hal ini lagi untuk punk di negara dunia ketiga – kamu tidak perlu menjadi imitasi scene negara dunia pertama.

 

Siapa yang paling berpengaruh bagi hidup kamu? Apa buku atau penulis favorit kamu sekarang?

Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab karena ada banyak orang dan pengalaman yang berpengaruh bagi hidup saya. Namun saya akan menuliskan beberapa buku yang mempengaruhi pemikiran saya :

 

Everybody was kung fu fighting : Afro-Asian connections and the myth of cultural purity.

From Babylon to Timbuktu: a history of the ancient Black races.

Forbidden Archaeology (a shorter version of this book is The hidden history of the human race)

Myth of the aryan invasion of India

Autobiography of Malcolm X

Plant roots: 101 Reasons why the human diet is rooted exclusively in plants

Food for the Gods: vegetarianism and the world's religions

1421: the year China discovered America

The darker nations: a people's history of the 3rd world

 

Ravi Grover

PO BOX 802103. Chicago, IL 60680-2103 USA

sanyasi@juno.com

 

Posted at 07:06 pm by rylsick
Make a comment  

Sunday, April 12, 2009
Perkembangan Zine Pada Komunitas Hardcore/Punk Di Bandung

Kalau tidak membaca tulisan Karib tentang sejarah scene HC/punk Jakarta, mungkin saya lupa pernah menyusun sebuah makalah tentang perkembangan zine di komunitas HC/Punk Bandung. Tulisan ini adalah bagian terakhir dari makalah yang saya susun sekitar tiga tahun yang lalu, dalam rangka memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa (halah, anjing!!). Kalau tidak salah tugas untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Data-data yang saya gunakan untuk menyusun makalah ini pastinya jauh dari lengkap, baik data tulisan maupun lisan. Saya pun lupa siapa saja orang-orang yang pernah diwawancarai karena saya tidak pernah melakukan wawancara secara formal, menodongkan recorder dan menanyakan pertanyaan yang sebelumnya sudah disusun. Pastinya lingkup penelitian kecil ini di Bandung. Kalau ada komplen sorry-sorry aja karena dulu akses saya terhadap sumber data sangat kurang dan waktu pengerjaan yang hanya satu bulan. Atau kalau mau komplen, tinggal kasih tahu bagian mana yang salah, mungkin kalau ada waktu lagi saya ingin menyusun kembali tulisan ini, meskipun pernah ada juga yang bikin skripsi dengan bahasan yang sama...jadi kalau ada tanggapan tulis aja...

 

 

Introduksi

Sebagai salah satu bentuk media massa, majalah mempunyai fungsi pokok yakni sebagai sumber informasi dan sebagai fungsi komunikasi. Menurut Dominick, klasifikasi majalah dibagi ke dalam lima kategori utama, yakni : General consumer magazine (majalah konsumen umum), Business publication (majalah bisnis), Literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan majalah ilmiah), Newsletter (majalah khusus terbitan berkala), dan Public relations magazines (majalah humas).

Dalam makalah ini yang menjadi pokok utama bahasan adalah zine yang menjadi media komunikasi khususnya di kalangan komunitas HC/Punk di Bandung. Tema mengenai zine ini diangkat karena dianggap sebagai fenomena yang cukup menarik yang berada diluar media komunikasi massa mainstream lainnya. Jika dimasukkan ke dalam klasifikasi Dominick, bisa termasuk ke dalam kelompok newsletter atau majalah khusus terbitan berkala walaupun ada sedikit yang berbeda. Dijadikannya zine ini sebagai tema utama dalam makalah ini karena merupakan sebuah fenomena yang menarik, dimana dalam penerbitannya ternyata membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap kondisi interaksi dan pemikiran di kalangan komunitas tempat zine itu muncul.  

Dilihat dari kemunculannya yang berasal dari orang-orang di kalangan scene HC/Punk, perlu juga ditelaah lebih lanjut. Dimana kemunculannya itu berasal di sebuah komunitas yang sering disebut sebagai komunitas underground. Sehingga perlulah diterangkan sedikit mengenai komunitas HC/Punk ini, agar dapat dipahami mengenai munculnya zine sebagai media komunikasi.

Digunakannya zine sebagai media komunikasi dalam scene HC/Punk menjadi sesuatu yang menarik karena sebagai komunitas minor yang berada dan hidup di jalanan di kota-kota besar ternyata mampu mengorganisir dan dengan keterbatasannya itu bisa melakukan penyebaran informasi dengan efektif. 

 

Zine Sebagai Media Komunikasi dan Ekspresi

Informasi yang dikomunikasikan dalam media zine di kalangan scene HC/Punk sekarang ini isinya sangat beragam seiiring dengan perkembangan jaman. Zine dibuat oleh setiap orang di kalangan scene HC/Punk itu sendiri, jadi setiap orang mempunyai kebebasan untuk membuatnya. Oleh karena itu isi zine sendiri tidak ada patokan atau batasan, karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk mengisi zinenya itu dengan segala hal yang diinginkan. Apapun yang dimuat dalam zine itu tergantung dengan sang pembuatnya.

Dari zine-zine yang dibuat oleh scene HC/Punk hampir semuanya isinya sungguh bebas. Tidak adanya sensor atas segala isi yang ingin ditampilkan. Dari mulai gambar-gambar, tulisan, sampai lay out, semuanya tidak ada batasan. Sehingga merupakan sesuatu yang sangat lumrah jika ditemukan kata-kata yang sungguh kasar dan sarkasme dalam tulisan-tulisan di zine-zine itu atau gambar-gambar yang oleh orang timur dianggap tidak senonoh.

Selain sebagai media komunikasi, seringkali zine dijadikan media ekspresi sehingga maksud, tujuan dan perasaan yang ingin diungkapkan oleh pembuatnya dalam zine adalah tanpa batas. Mungkin sesuatu yang membatasi ekspresi itu hanyalah kesadaran si pembuatnya. Untuk menilai apakah zine ini baik atau tidaknya itu semua dikembalikan kepada pihak yang membacanya. Karena esensi dari zine yang tumbuh di kalangan scene HC/Punk ialah kebebasan sebab tidak adanya otoritas yang boleh mencampuri ekspresi manusia.

Ketika keadaan sekitar memungkinkan manusia untuk mengekpresikan perasaannya maka ia akan segera mencari media untuk mengekspresikannya. Begitupun dengan zine, di mana seorang Punk ingin mengekspresikan perasaan ataupun ingin menyampaikan pemikirannya melalui tulisan mengenai suatu hal maka zine bisa dijadikan media itu selain tentu saja musik. Sehingga di saat Punk dengan berbagai ide, pemikiran, dan ideologinya merasa usaha untuk mencapai tujuan yang ingin ia raih ialah melalui zine ini, maka dengan kebebasan yang dimiliki, ia akan membuatnya. Oleh karena itu, isi dari zine-zine yang ada di kalangan HC/Punk selain isinya mengenai segala hal yang berbau musik HC/Punk, mereka pun memuat tulisan-tulisan yang merupakan tanggapan atas keadaan sekitar. Banyak propaganda-propaganda sesuai dengan ideologi si pembuatnya yang dimuat dalam zine termasuk propaganda politik, dalam hal ini kebanyakan berkaitan dengan anarkis dan anti kapitalis. Walaupun ada sedikit kesamaan munculnya zine di berbagai daerah memunculkan kekhasannya tersendiri sesuai dengan situasi kelokalannya masing-masing.

Jika saja adanya peraturan atau perundang-undangan yang melarang dibuatnya tulisan-tulisan yang dianggap melawan pemerintah, itu tidak pernah menjadi kendala berarti dalam pembuatan dan penyebaran zine. Hal ini karena selain pembuatan dan penyebarannya yang terbatas ataupun dijual di tempat-tempat tertentu, biasanya sang pembuat tulisan akan menggunakan nama samaran atau inisial agar identitasnya tidak diketahui umum. Mungkin jika kita melihat peraturan di negara-negara barat yang menjamin kebebasan berekspresi, maka tidak aneh jika isu-isu politik yang kontra pemerintah bisa disebarkan secara luas. Coba bandingkan dengan di Indonesia yang peraturannya serba tidak jelas.

Contohnya ialah zine Profane Existence yang dibuat oleh sebuah kolektif yang namanya sama dengan nama zinenya. Profane Existence zine isinya kebanyakan adalah tulisan-tulisan mengenai tanggapan atas keadaan sosial politik di AS. Dimana informasi yang dimuat dalam zine itu salah satunya berisi data-data kebobrokan AS dalam perang di Timur Tengah, selain opini-opini dari perorangan yang menulis berbagai hal. Ada juga propaganda-propaganda untuk melakukan pemboikotan atau ajakan berdemo menentang kesewenang-wenangan pemerintah. Sebagian besar isu-isu yang diangkat dalam zine ini adalah isu sosial politik yang sedikit banyak berkaitan dengan scene HC/Punk. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa orang-orang dari kalangan scene HC/Punk bukanlah sekelompok pengacau atau pembuat onar, tetapi mereka juga mampu untuk berpikir ilmiah dan berperilaku intelek walaupun dengan bahasa mereka sendiri. Selain mengangkat isu sosial politik, zine yang dikeluarkan di scene Hardcore/Punk ada juga yang mengangkat isu animal liberation, vegetarian, feminisme, straight edge, pencemaran lingkungan, globalisasi dll.

Pada umumnya zine yang dibuat perorangan ataupun kolektif sering berformat fotokopian, sering juga disebut sebagai xeroxzine. Hal ini dimaksudkan agar biaya yang digunakan tidaklah besar karena tinggal memfotokopi. Paling penting dari penerbitan zine ini ialah bahwa mereka yang berasal dari scene Punk tidaklah pernah menganggap adanya aturan atau regulasi atas hak cipta, sehingga mereka sendiri –bisa dikatakan- tidak pernah memberi zine mereka label hak cipta (copyright). Bahkan untuk sebagian zine, si pembuat menulis ajakan untuk memperbanyak zinenya agar informasi yang ada di zine itu bisa disebarkan seluas-luasnya. Sehingga dalam penyebarannya tidak bisa diawasi secara jelas karena setiap orang yang memegang zine bebas untuk memperbanyak dan kemudian menyebarkannya. Ini adalah salah satu kunci keefektifan zine dengan tanpa copyright, yang mampu mengkomunikasikan informasi kepada semua pihak yang merasa tertarik.  

 

Zine di Komunitas Hardcore/Punk Bandung

Musik Hardcore/Punk sendiri diperkirakan telah ada di Bandung sejak pertengahan tahun 1970-an. Sekitar pada tahun 1980-an musik Punk dapat dipastikan telah ada di Indonesia karena orang-orang yang pernah berkecimpung dalam scene Punk pun masih bisa dimintai keterangannya. Musik Punk mulai berkembang seiring dengan trend musik new wave ataupun tari kejang (breakdance) yang sempat mewabah pada tahun 1980-an.

Pada pertengahan tahun 1990-an bisa dikatakan baik musik Punk, Hardcore, maupun musik underground lainnya mengalami perkembangan yang cukup berarti. Hal ini dibuktikan dengan telah adanya beberapa band yang mengeluarkan album secara independen, dan juga mulai marak diadakannya acara-acara musik underground. Pada saat itu Punk di Bandung bisa katakan masih sekedar trend musik, belum dimengerti secara menyeluruh.

Komunitas Punk mulai jelas terlihat sekitar tahun-tahun 1994-1995an. Panggung-panggung untuk musik ini pun semakin banyak dari mulai acara tujuhbelas agustusan sampai acara yang diorganisir secara profesional. GOR Saparua adalah satu saksi bisu berkembangnya Punk di Bandung. Pada tahun-tahun di akhir 90-an, terutama di hari minggu sering diadakan acara musik underground. Tidak jarang dalam sebuah acara disertai dengan kericuhan seperti perkelahian yang sering berujung pemberhentian acara oleh pihak berwenang karena situasi dianggap sudah tidak kondusif. Diantaranya adalah muncul acara seperti Gorong-gorong 1&2, juga Punk Rock Party 1&2. Acara-acara itu juga melahirkan band-band Punk Rock semisal Keparat, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dll. Pada waktu itu komunitas Punk belum diakui oleh masyarakat seperti sekarang karena hanya dianggap sebagai sekelompok anak muda bergaya berandalan yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan.

Saat itu Suharto masih berkuasa, dan militer masih sangat ditakuti, tidak ada yang berani mengritik kebijakan pemerintah apalagi menghina aparat. Tetapi hegemoni orde baru mungkin tidak berlaku bagi komunitas Punk/Hardcore. Seakan-akan tidak ada hukum yang berlaku, setiap penampilan panggungnya band Punk berani menghina-hina keotoriteran pemerintah ataupun mencaci aparat karena sewenang-wenang. Subversif mungkin pantas dikatakan untuk kelakuan seperti itu pada saat orde baru, tetapi toh tidak ada tanggapan serius dari pihak berwenang karena mungkin Punk pada saat itu masih dianggap sampah.

Salah satu komunitas Punk di Bandung ialah sekelompok anak Punk yang sering nongkrong di belakang pusat perbelajaan Bandung Indah Plaza (BIP) yang pada saat itu tengah ramai-ramainya karena belum ada mall saingan. Dari komunitas Punk yang sering disebut Barudak PI itu lahirlah sebuah record label yang diberi nama Riotic Record pada tahun 1997. Berawal dari keinginan Chaerul, Dadan “Ketu”, Pam, Azis, Awing.dkk untuk mendirikan sebuah record label yang bisa menjembatani keinginan band-band HC/Punk untuk membuat rekaman, jadilah record label itu didirikan beserta dengan distro(distribution outlet)nya. 

Pada awal pendiriannya, Riotic record dan distro sering berpindah-pindah. Seperti pernah memilih di daerah Riung Bandung, Cicadas, Melong Green dan belakang BIP sendiri. Pada saat itu Riotic distro menjual berbagai pernak-pernik band, semisal t-shirt, kaset, dan stiker. Dari usaha untuk menjual pernak-pernik band itu, dibuatlah katalog barang-barang yang dijual di Riotic sebagai cara untuk menginformasikan kepada komunitas Punk lainnya. Dari munculnya katalog itulah cikal bakal dibuatnya zine dan newsletter Punk di Kota Bandung, mungkin juga bisa dikatakan di Indonesia.

Pada awalnya isi dari katalog itu hanya berisi daftar barang-barang yang dijual di Riotic dan hanya sedikit tulisan tentang Punk pada kertas katalog, itu pun agar ruang kosong di katalog tidak percuma. Setelah mempunyai jaringan di antara komunitas baik di beberapa kota besar di Indonesia maupun di luar negeri, mereka sering bertukar informasi maupun berupa barang dan salah satunya adalah dikirimnya sebuah zine -yang oleh anak-anak Riotic sendiri baik isi maupun lay outnya disebut jelek- oleh komunitas Punk dari Singapura. Setelah membaca dan mengamati tampilan zine dari Singapura itu, beberapa orang di Riotic sepakat untuk membuat zine. Dan lahirlah zine/newsletter pertama di kalangan Hardcore/Punk di Indonesia itu, namanya Submissive Riot.

            Tahun 1998, di Indonesia apalagi di Bandung pembuatan zine belumlah membudaya seperti sekarang. Hanya ada satu-dua zine yang dibuat oleh komunitas underground Ujung Berung seperti Revogram dan Mindblast, akan tetapi karena peredarannya sangat terbatas sehingga tidak terlalu bisa dikatakan sebagai topangan yang jelas atas munculnya budaya pembuatan zine di Bandung. Paling-paling newsletter hanya bisa ditemukan di mesjid ketika jumatan ataupun di kampus-kampus, dan tidak pernah ada info mengenai anarkisme, pemboikotan korporasi, etos DIY, dan Punk Rock di newsletter mesjid. 

            Submissive Riot dibuat oleh tiga orang, yakni Pam, Linggo, dan Behom. Awalnya mereka membuat Submissive Riot karena merasa tertantang untuk membuat newsletter/zine yang lebih bagus dari zine yang dikirim oleh teman-temannya di Singapura. Isinya berisi hal-hal yang pada saat itu bisa dikatakan tidak umum, lebih tepatnya seluruh isinya adalah propaganda. Anarkisme bisa dikatakan sebagai ideologi yang sangat mempengaruhi tulisan-tulisan mereka, tidak adanya otoritas yang mendominasi adalah pokok utama tulisan yang mereka buat. Juga upaya pemboikotan perusahaan siap saji McDonnald yang dianggap sebagai perusahaan kapitalis cabang dari negara komprador AS pada saat itu.

            Submissive Riot terbit setiap bulan, dalam setiap penerbitannya tiga sekawan itu paling-paling hanya membuat sekitar 30-40 eksemplar dengan format fotokopian. Setiap eksemplar biasanya hanya berisi 4-8 halaman ukuran A5. Zine atau newsletter itu dijual seharga Rp. 500,- sebagai ganti biaya produksi. Peredaran zine ini dijual hand-to-hand kepada teman-teman mereka sendiri, dan karena pada saat itu merupakan sebuah fenomena yang baru pada kultur Punk di Bandung sehingga setiap kali penerbitan selalu habis. Untuk setiap Submissive Riot yang dibeli selalu dianjurkan untuk memfotokopinya lagi untuk disebarkan, jadi jika setiap edisinya yang diketahui hanya ada sekitar 30-40 eksemplar tetapi untuk keseluruhan Submissive Riot yang tersebar tidaklah dapat diketahui jelas. Oleh karena itu penyebaran zine ini cakupannya sungguh luas, selain karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk memperbanyaknya, distribusi zine ini juga disebarkan diantara komunitas-komunitas Punk di kota-kota besar di Indonesia. Submissive Riot dapat tersebar di beberapa kota selain Bandung seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Lampung, Medan, Pontianak, bahkan sampai ke Menado dan Ujung Pandang.

            Munculnya Submissive Riot ternyata mendapat respon yang beragam. Pembuatan zine dan newsletter menjadi mewabah di kalangan scene HC/Punk baik di Bandung maupun kota-kota lainnya. Karena biasanya komunitas Punk lainnya yang mendapat newsletter ini, kemudian merasa tertarik untuk membuatnya sehingga ibarat jamur di musim hujan, pembuatan zine semakin banyak dan meluas. Tentu ini dampak yang positif, setidaknya budaya tulis dan baca meningkat walaupun hanya untuk segelintir pihak dalam komunitas.

            Sedangkan tanggapan dari pihak aparat berwenang tidak ada sama sekali. Hal ini juga cukup menarik karena pihak pemerintah serta aparaturnya sering menjadi objek tulisan-tulisan mereka ini, apalagi ditulis dengan bahasa yang sarkasme, ternyata tidak memberi respon apa-apa. Bahkan jika digolongkan ke dalam ‘selebaran gelap’ subversif yang menghasut pun, newsletter ini tidak masuk kategori BAKIN. Penyebabnya ternyata tulisan-tulisan dalam Submissive Riot tidak dianggap secara serius atau bahkan dianggap bualan sesaat baik oleh pihak pemerintah ataupun masyarakat awam lainnya. Punk yang pada waktu hanya dianggap sebagai sekelompok anak muda yang berpakaian kotor seperti gembel menjadikan dikotomi itu melekat dalam benak masyarakat. Sehingga disaat mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataannya melalui tulisan, hal itu tidak ditanggapi sama sekali.

            Submissive Riot hanya bertahan sekitar satu tahun, atau sekitar 12-13 edisi. Alasan berhentinya pembuatan zine ini kurang jelas tetapi bisa jadi karena tiga orang pembuatnya yang mulai memasuki kegiatan politik praktis. Sekitar tahun 1999, mereka bertiga telah dikenal sebagai “corong” PRD, bahkan bisa menempati posisi-posisi strategis dalam aliansi gerakan kota.

            Selanjutnya akan dibeberkan mengenai salah satu zine yang cukup legendaris di kalangan scene Hardcore/Punk baik di Bandung maupun di kota lainnya. Zine yang baik format maupun tulisan-tulisannya banyak diperbincangkan bahkan diperdebatkan. Inilah zine yang ternyata membawa sang editornya ke pintu karir yang menjanjikan,  ya inilah Tigabelas Zine.

            Tigabelas zine mulai dibuat pada tahun 1998 oleh Arian yang pada waktu itu dikenal sebagai vokalis band yang menjadi ikon HC Indonesia, Puppen. Arian sebagai editor dalam pengerjaannya dibantu oleh Ucok Homicide sebagai kontributor tetap. Setelah kemunculan Submissive Riot di tahun yang sama, Arian membuat  zine sebagai proyek sampingannya selain sibuk di bandnya. Edisi pertama Tigabelas zine terbit pada bulan Agustus 1998.

            Format Tigabelas zine adalah fotokopian ukuran A5 dan dihadirkan dengan lay out yang eye catching setiap halamannya yang rata-rata berjumlah sekitar 60 halaman setiap edisinya. Terbitnya zine ini sangat tidak teratur, tergantung nasib sang editor, dan karena ini bukanlah sebuah penerbitan majalah yang terorganisir dengan baik jadi tidak ada deadline dalam pengumpulan materinya. Bahkan rentang waktu antara Tigabelas edisi ke edisi berikutnya selalu terlambat dari jadwal yang ditentukan sebelumnya. Tetapi karena zine ini merupakan sebuah fenomena yang sungguh menarik dalam dunia penerbitan media sehingga selalu di tunggu-tunggu oleh pembacanya baik dari kalangan scene Hardcore/Punk maupun luar.

            Kolom-kolom yang ada dalam zine ini antara lain adalah :

            Kolom 13. Dalam kolom ini terdapat opini tamu yang berasal dari teman-teman editor sendiri di scene HC/Punk di Bandung. Selain berisi opini mengenai perkembangan HC/Punk, sering juga berisi tulisan berbau politik, puisi, unek-unek, bahkan dumelan dari sang kontributor.

            Scene Report. Dalam bagian ini berisi laporan-laporan dari perkembangan scene HC/Punk di luar kota Bandung, seperti dari Malang, Bekasi, Yogyakarta bahkan dari kota-kota di negara-negara Asia Tenggara. Laporan ini di dapat oleh sang editor dengan mengadakan kontak langsung dengan scenester di kota-kota itu, bisa sang editor datang langsung ke kota-kota itu ataupun scenester dari luar kota yang memberi laporan sendiri agar kegiatannya diliput, ataupun melalui email jika sang sumber berasal dari luar negeri.

            Interview. Dalam bagian ini memuat hasil interview/wawancara dengan band, editor zine atau orang-orang yang berkecimpung dalam scene HC/Punk lainnya. Interview dilakukan oleh sang editor dengan bertemu langsung si sumber, ataupun melalui email jika tempat si sumber berada di daerah yang cukup jauh, semisal interview dengan band dari New York, maka interview dilakukan via email. Selain itu, editor bisa juga memuat hasil interview dari majalah lain seperti hasil interview band The Business oleh majalah punk Maximum Rock’N’Roll, hasil interview itu dimuat dalam Tigabelas zine dengan mencantumkan pula sumbernya.   

            Artikel. Tema yang diangkat dalam tulisan di artikel pada zine bermacam-macam, seperti cerita mengenai tokoh antara lain Mahatma Gandhi dan Wiji Thukul, ataupun tema mengenai animal liberation, dan juga memuat tentang undang-undang yang menjamin kebebasan berpendapat yang bahannya di dapat LBH setempat.   

            Resensi Rekaman. Isinya adalah resensi rekaman yang dilakukan oleh Arian dan Ucok. Resensi adalah hal sangat subjektif, karena itu dalam resensi rekaman ini Arian dan Ucok mengeluarkan pendapatnya atas rekaman-rekaman yang mereka anggap menarik untuk di resensi. Tidak semua yang diresensi isinya bagus atau memuji karena terkadang sang peresensi melakukan sindiran dan kritik atas rekaman yang ia dapat.

            Resensi Majalah dan Buku. Disini Arian dan Ucok melakukan resensi pada majalah atau buku yang mereka baca. Majalah yang diresensi biasanya adalah majalah atau zine yang berbau HC/Punk baik dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan buku yang diresensi tidak hanya buku-buku yang ber’atmosfer’ HC/Punk tetapi juga ada buku ‘serius’ yang mereka resensi semisal buku-buku politik. Salah satunya ialah buku berjudul Pemikiran Karl Marx, yang masuk resensi dalam Tigabelas zine edisi ketiga. Selain berisi tulisan-tulisan yang semuanya mempunyai relevansi tehadap pergerakan scene HC/Punk, zine ini juga banyak menampilkan iklan-iklan yang masih berbau HC/Punk semisal desain iklan dari riotic record, reverse, ataupun kampanye-kampanye animal liberation.

            Setiap edisinya Tigabelas zine dijual sekitar Rp.3000 – Rp.5000 tergantung ketebalannya, untuk mengganti ongkos produksi. Usaha penyebarannya secara hand-to-hand merupakan cara penjualan yang efektif, selain karena dijual di lingkungan sendiri, zine pada waktu itu juga masih merupakan (sekali lagi) fenomena baru di kalangan komunitas scene HC/Punk. Dari setiap edisinya pun zine ini selalu sold out.

Melalui media zine yang dibuat ini Arian dan Ucok secara tidak langsung memacu orang-orang untuk membuat zine dan mulai berpikir bahwa dibalik HC/Punk ada misi dan movement. Selain itu, melalui Tigabelas zine ini anak-anak muda dipacu untuk tidak hanya menyukai dan mendengarkan hardcore dan punk saja, tetapi lebih mendalaminya dan ber”attitude” dalam bermusik.

Karena sang editor tidak melabelkan hak cipta pada zine ini bahkan ia sendiri mengusulkan untuk memperbanyaknya sehingga penyebarannya sangat luas. Di komunitas scene HC/Punk sendiri baik tertulis maupun tidak, mereka tidak mengakui adanya hak cipta (copyright). Sehingga bukan sesuatu yang akan berbuntut masalah jika seseorang memperbanyak rekaman atau zine dari lingkungan HC/Punk sepanjang tidak untuk mendapat keuntungan.

Respon terhadap zine ini juga bermacam-macam. Banyak orang di kalangan komunitas musik underground lainnya kemudian mulai membuat zine juga, dan orang-orang di luar komunitas itu pun mulai melirik media zine sebagai media komunikasi alternatif. 

            Zine yang fenomenal ini hanya sanggup bertahan 4 edisi (terbit tahun 2001), dan merupakan suatu yang luar biasa pada saat itu dengan penjualan dari 4 edisi mencapai lebih dari 1000 eksemplar (menurut sang editor). Alasan berhentinya pembuatan zine ini pun dikarenakan editornya, Arian sibuk dengan kegiatannya yang lain. Sedangkan Ucok yang pada nomor empat sudah tidak lagi menjadi kontributor Tigabelas zine, di tahun 1999-2000 Ucok sempat meluncurkan zinenya sendiri yang diberi nama Membakar Batas.

            Arian sendiri kemudian sempat ikut terlibat dengan pembuatan majalah-majalah yang dibuat secara independen, seperti majalah Ripple dan Trolley dimana ia menjadi musik director. Majalah Trolley sendiri akhirnya bangkrut setelah terbit kurang lebih 10 edisi (edisi terakhir terbit sebanyak 5000 eksemplar) karena kehabisan modal. Sedangkan majalah Ripple sampai sekarang mampu bertahan dan semakin berkembang, bahkan dianggap menjadi salah satu majalah avant-garde dalam media independen. Sekarang ini Arian bekerja sebagai seorang editor di majalah Playboy Indonesia, setelah sebelumnya sejak tahun 2002 bekerja di majalah MTV Trax sebagai senior editor.

 

Zine Hari Ini

            Dua zine yang telah dibahas tersebut bisa dikatakan sebagai pencetus munculnya media komunikasi cetak yang dibuat secara independen. Baik Submissive Riot maupun Tigabelas zine merupakan salah satu bentuk media komunikasi alternatif diluar media yang telah ada sebelumnya.

            Setelah era Submissive Riot dan Tigabelas Zine, muncul zine-zine baru baik dari kalangan scene HC/Punk maupun dari luar yang merasa tertarik dengan zine sebagai media baru. Dari orang-orang di kalangan scene HC/Punk kemudian muncul Kontaminasi Propaganda, Membakar Batas, Puncak Muak, Shaterred, Lysa Masih Bangun, Akuadalahaku, Emphaty Lies Far Beyond, New Noise, Rebelliousickness, Cukup Adalah Cukup, Lady Anarchy dll. Kesemuanya itu mengusung tema yang bermacam-macam seperti Cukup Adalah Cukup dan Lady Anarchy yang menjadikan isu feminisme sebagai isu utama zinenya, kemudian Emphaty Lies Far Beyond yang berisi semacam hal semisal globalisasi dan neo liberalisme, dsb. Tetapi kesemua zine itu sekarang ini bisa dikatakan sudah mati karena berbagai alasan. 

Zine generasi terbaru (bisa dikatakan begitu) yang terbit di scene HC/Punk Bandung sekarang diantaranya Beyond The Barbed Wire, Lapuk, Hardcore Heroes vs Punk Partisans. Para pembuat zine itu tetap berasal dari scene HC/Punk yang masih ingin mempertahankan budaya penulisan zine ditengah gempuran majalah-majalah glossy anak muda yang hanya menjual gaya hidup. 

Beyond The Barbed Wire (selanjutnya BtBW) dibuat oleh Tremor yang juga mantan vokalis band Rajasinga.  Zine yang telah keluar dalam dua edisi ini dicetak rata-rata 100 eksemplar per edisinya, dengan harga edisi pertama Rp 3500 dan edisi kedua karena dibuat lebih tebal dijual seharga Rp 5000. Dengan adanya jaringan pertemanan yang cukup baik di dalam scene HC/Punk memudahkan pendistribusian zine dari kota ke kota. Dalam hal ini Dani mampu membuka jaringan sehingga BtBW bisa didistribusikan sampai ke berbagai kota di Jawa dan yang paling jauh ialah kota Menado. Caranya dengan mengirimkan master hasil print BtBW ke teman di kota lain, kemudian yang menerima master tersebut akan menggandakannya lagi untuk di sebarluaskan. Sedangkan keuntungan penjualannya seluruhnya untuk kemajuan scene HC/Punk di kota yang menyebarluaskannya, jadi dari penjualan itu Dani sama sekali tidak mendapat keuntungan.

Di zinenya, Tremor sebagai pembuatnya dibantu juga oleh teman-temannya yang lain. Mereka menyumbangkan tulisan-tulisan yang berkesesuai dengan tema yang diusung BtBW. Format BtBW sebenarnya sedikit mengingatkan dengan format Tigabelas zine. Di lay out dengan softwear desain secara rapi dan apik sehingga menghasilkan tampilan yang menarik. Berbeda dengan zine yang lain, BtBW setiap edisinya mempunyai tema. Pada edisi pertama bertemakan tentang punk dan definisinya kemudian yang kedua mengambil tema etika DIY. Pada edisi kedua, Dani memasang iklan, tetapi tidak sembarang iklan yang ia muat. Hanya iklan yang berasal dari kalangan scene HC/Punk yang mendukung DIY saja yang bisa terpasang di BtBW seperti PenitiPink dan Kolektif Dor Dar Gelap yang menawarkan pembuatan pin. Biaya iklan untuk setengah halaman kertas ukuran A5 paling mahal hanya dipatok sekitar Rp 10.000. Uang dari iklan tersebut sebenarnya adalah untuk menutupi biaya kirim BtBW ke kota lain jadi harga yang dipatok pun tidak mahal.

Posted at 02:50 am by rylsick
Comments (4)  

Next Page