Hampir tiga bulan ini saya hidup di lingkungan yang berbeda dari
sebelumnya. Bertemu dengan banyak orang baru yang bisa saya identifikasi
sebagai orang yang bisa diajak berteman dengan tulus meski beroposisi dalam
beberapa hal tertentu. Menapaki aktivitas baru yang menjadi rutinitas sekaligus
pangkal kebosanan baru. Terkadang saya merindukan pola kehidupan sebelumnya,
tapi terlalu naif jika saya membandingkannya dengan sekarang, karena toh ada
banyak pengalaman baru yang saya dapatkan.
Di sini malam tetap panjang seperti sebelumnya, yang berbeda hanya saya seringkali
mendapati diri terbangun menatap langit subuh beralaskan tegel di depan kamar
kosan. Ada botol-botol kosong berserakan dan sampah kulit kacang. Tidak jarang
juga terbangun karena bau sulingan alkohol yang termuntahkan tubuh. Hal yang
memuakan ialah mesti terbangun karena alarm berbunyi keras menyuruh saya
bergegas mandi lalu mengarahkan diri ke tempat otak dijejali konsep-konsep
bagaimana menguasai orang.
Ternyata memahami hal lain yang sebelumnya tidak terbayangkan adalah
sesuatu hal yang begitu menarik untuk saya sekarang ini. Berada dalam keadaan
yang mengharuskan saya menelusuri lebih jauh perbedaan-perbedaan dan keunikan
dari ide, wacana, dan dinamika dari setiap hal yang ditemui. Baik latar
belakang, tujuan, atau prinsip yang berbeda membentuk keragaman sekaligus
pelajaran akan pemahaman daripada memperlakukan diri sebagai seseorang yang
terus-terusan merasa paling “berbeda” dari orang lain. Setiap orang berbeda dan
saya pun berbeda, tapi seringkali mengekploitasi kebedaan jadi hambatan untuk
mengeksplorasi kenapa perbedaan itu terjadi.
Tempat saya belajar sekarang dipenuhi bermacam orang dari latar belakang
pengalaman politik yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang berasal dari daerah
konflik, pemuka agama, birokrat, wakil rakyat ataupun petinggi partai. Ada anak
ingusan macam saya dan ada orang yang jauh lebih dewasa secara umur. Semuanya
berada dalam satu kelas sehingga memunculkan keramaian saat diskusi dan debat yang
tidak bisa berhenti jika tidak distop oleh dosen.
Saya bisa lebih memahami orang lain meskipun ia berasal dari kondisi yang
sebelumnya paling saya benci. Mungkin saya beruntung karena tidak lagi asal
sinis dengan pendirian orang lain. Kami bisa saling bercengkerama hangat dalam
suasana keakraban meskipun begitu tiap orang menyimpan rahasianya
masing-masing. Teman saya bilang tiap orang punya misterinya sendiri. Mungkin
kartu-kartu truff ini akan terbuka semuanya jika suatu hari nanti kami mesti
saling berhadap-hadapan dengan aturan main yang berbeda.
Ravi Grover adalah salah satu kolumnis di zine hc/punk
HeartattaCk (sekarang berganti nama menjadi Give Me Back). Wawancara ini dilakukan pada
akhir 2008 melalui email. Awalnya wawancara ini akan dimasukan dalam edisi
kedua newsletter pribadi saya, Samsara. Namun karena kemalasan saya untuk
menerbitkannya dalam versi cetak, jadi saya publish saja di blog ini. -rylsick
Saya mengenal kamu sebagai kolumnis di Heartattack (HaC).
Jadi, bisakah kamu ceritakan bagaimana kamu terlibat sebagai kolumnis di HaC?
Dan apa aktivitas kamu sekarang?
Awalnya saya menulis sebuah artikel berjudul “The War on
Immigrant” untuk La Resistencia (www.bluetrianglenetwork.org).Saya pikir LR tidak menerbitkan zine
mereka, jadi saya kirimkan ke HaC. Sebelumnya saya juga telah menulis artikel
tersebut untuk Clamor Magazine (clamormagazine.org/issues/19/index.php). Kemudian
salah satu editor dari HaC menyukai apa yang saya tulis dan meminta saya
menjadi seorang kolumnis reguler.
Saya juga membuat zine saya sendiri dan menulis untuk
beberapa zine-zine kecil sebelum HaC. Sekarang saya sedang mengerjakan beberapa
artikel dan mengumpulkan sumber informasi untuk sebuah buku sejarah. Saya juga
menulis satu bagian berjudul “Defending Dharma : Why Hindus Should Support The
Tibetan Cause” pada Mei 2008 untuk sebuah majalah online (www.hinduyuva.org/tattva-blog/2008/05/hindus-tibet/).
Kami juga mencetak sebuah pamflet yang merupakan gabungan dari tiga kolom yang
saya tulis di HaC, berjudul “Culture Theft”. Tulisan tersebut mengenai
bagaimana scene punk kulit putih telah mencuri budaya dari orang-orang kulit
berwarna untuk fashion, musik, dll.
Beberapa tahun lalu, kolom kamu di HaC diboikot oleh Kent
McClard. Tolong ceritakan kejadiannya? Kenapa setelah kejadian tersebut kamu
masih menulis untuk HaC? Dan bagaimana hubungan kamu dengan orang-orang di HaC?
Haha. Sungguh lucu ketika hal itu terjadi. Baiklah saya
akan menceritakan latar belakang kejadian itu. Saya menulis di sebuah isu HaC
di mana scene begitu terlalu banyak mengkritisi Rage Against The Machine.
Argumen saya adalah bahwa RATM menggunakan uang dan kepopuleran mereka untuk
menolong orang-orang. Setelah saya menulis itu, lalu Kent McClard mengirim email
dan memberi tahu saya bahwa dia tidak setuju dengan kolom saya tersebut.
Kemudian saya membalasnya dan menerangkan bagaimana pandangan saya. Setelah
kolom ini diterbitkan, saya terlibat debat dengan beberapa pembaca HaC. Dari
pembicaraan tersebut saya merubah opini saya dan memutuskan bahwa saya telah
salah dalam menilai RATM.
Akan tetapi, dalam waktu yang sama saya melihat sesuatu
yang aneh, anak-anak punk yang berdiskusi dengan saya tersebut kemudian menjadi
sangat marah terhadap sebuah band. Beberapa dari anak punk ini menyatakan bahwa
korporat-korporat musik sebagai HAL YANG PALING JAHAT, dan MASALAH PALING
PENTING untuk kita lawan. Kita tidak seharusnya mendukung band-band korporat
(baca : band mayor-red), tetapi ada permasalahan lain yang harus kita
selesaikan terlebih dahulu. Ketika saya menanyakan bagaimana pendapat mereka
tentang penghancuran lingkungan, diskriminasi perempuan, atau kemiskinan,
mereka selalumengatakan bahwa masalah-masalah
tersebut perlu dipecahkan. Akan tetapi, mereka tidak begitu marah seperti
ketika mereka membicarakan band-band korporat.
Lalu saya mulai berpikir : Tidakkah kita harus marah
ketika hidup orang-orang dihancurkan? Salah seorang punk yang berumur 30-an,
memberitahu saya bahwa ia begitu marah dan geram ketika melihat band-band punk
di MTV. Lalu saya sarankan agar ia berhenti menonton acara-acara musik dan
menonton acara berita saja. Bagaimana perasaannya ketika menonton video yang
menayangkan tubuh-tubuh yang mati, atau orang-orang yang terbunuh karena
perang? Bagaimana perasaannya menonton tayangan di mana orang-orang terkena
represi oleh polisi? Hal ini adalah saran saya untuk semua punk yang begitu
emosi dan marah dengan MTV. Jika kamu marah dengan band-band korporat, lalu
bagaimana pendapat kamu dengan perasaan orang-orang yang mendapat aksi
kekerasan?
Ketika sebuah band sign dengan sebuah mayor label, hal
tersebut tidaklah menghancurkan hidup siapapun. Hal itu tidaklah merampas hak
asazi manusia atau mengangggu kedamaian. Tetapi ketika korporat mencuri tanah
dari orang-orang pribumi, hal tersebut menyakiti kehidupan mereka. Ketika
sebuah pemerintahan mengeluarkan sebuah hukum yang melarang orang-orang untuk
protes, hal tersebut telah mengganggu kebebasan orang-orang. Saya tidak merasa
menyesal terhadap scene punk yang begitu marah dan membenci “mainstream”. Ada
banyak permasalahan lain di dunia ini yang menurut saya lebih penting.
Setelah diskusi tersebut, saya menulis kolom yang
mengkritisi scene yang fokus terhadap band-band korporat. Setelah dikirimkan ke
HaC, kolom itu ternyata diboikot dan hanya dipublikasikan secara online. Ada
dua hal keliru yang Kent McClard katakan. Pertama, Kent menulis pada saya
“beberapa email personal” yang isinya memberitahu saya bahwa RATM begitu buruk.
Hal itu tidaklah benar. Kent hanya mengirim sebuah email, dan saya membalasnya
satu. Jadi hanya dua pengiriman email antara kami berdua. Mungkinkah ia
berbohong tentang ini semua untuk publisitas HaC? Saya tidak yakin dengan alasan
dia. Kedua, Kent mengklaim bahwa ia memboikot kolom saya karena saya
memberitahu scene untuk mendukung korporat dan memberikan uang mereka untuk
band-band besar. Saya tidak pernah mengatakan hal ini. Satu hal yang saya ulangi
ialah seharusnya orang-orang fokus dalam isu-isu kemanusiaan daripada berkutat
dengan musik. Saya pikir ada sisi baik dengan diboikotnya kolom saya. Tulisan
saya mendapatkan publisitas yang bagus dan saya tidak mendapatkan komplain
apapun.
Saya memilih terus menulis untuk HaC karena saya pikir
suara-suara di scene sangat tidak berimbang. Kebanyakan penulis, editor zine,
dan pemilik record label adalah lelaki Amerika kulit putih. Dan juga kebanyakan
juga orang-orang di scene punk (termasuk punk di negara dunia ketiga) mengikuti
dan belajar dari mereka. Saya ingin menawarkan perspektif yang berbeda.
Seberapa penting etika DIY untuk scene HC/Punk? Dan
maukah kamu menjelaskan apakah DIY bisa menjadi sebuah alternatif seperti
ketika krisis ekonomi global sekarang?
Hal tersebut sangat penting ketika scene dimulai. Saya
pikir DIY adalah sebuah langkah kecil dalam mengambil kontrol sebuah level
personal selama krisis ekonomi, tetapi hal itu hanyalah sebuah bagian kecil
dari solusi. Saya pikir, satu hal yang salah ialah ketika punk di Amerika Utara
mengklaim bahwa jika kamu mempraktekan DIY maka kamu sedang melawan korporasi.
Saya membaca sebuah email dari seorang punk amerika yang mengatakan bahwa “kita
bisa tertawa dihadapan muka para kapitalis dengan menempatkan musik DIY”. Saya
tidak setuju dengan hal ini. Sebagian besar orang miskin telah mempraktekan
DIY, mereka membuat rumah, pakaian, dan menanam makanan mereka sendiri.
Apa yang terjadi ketika orang-orang/pemerintah/korporasi
ingin mencuri tanah mereka atau mempergunakan anak-anak sebagai buruh murah?
Apakah mempraktekan DIY dapat menghentikan eksploitasi kapitalis? Tidak sama
sekali. DIY tidak akan membawa equality atau menciptakan keseimbangan antara si
kaya dan si miskin. Solusinya ialah mengorganisir masyarakat, membangun
aliansi, dan menghadapi siapa pun yang merugikan masyarakat – itu semua untuk
menambah praktek DIY.
Saya dengar kamu menulis sebuah buku tentang Sejarah Asia
Selatan, kalau begitu saya ingin mengetahui tentang hal tersebut (proses dan
sumber sejarah yang kamu temukan)? Dan mengapa kamu menulis itu? saya pernah
belajar sejarah di universitas selama lima tahun, dan sadar jika sejarawan
adalah pekerjaan yang mengagumkan seperti yang Indiana Jones lakukan di
filmnya.haha.
Sejarah Asia Selatan adalah sebuah subjek yang menarik
bagi saya setelah saya mulai mempelajari Sejarah Afrika. Untuk waktu yang
begitu lama, sejarawan barat menyatakan bahwa peradaban dunia kuno yang hebat
dimulai oleh orang kulit putih. Mereka mengatakan bahwa piramida di Mesir dan
Ethiopia dibangun oleh orang-orang kulit putih – sampai terungkap bahwa
orang-orang Afrika kulit hitam lah yang membangun peradaban ini.
Ada sebuah teori yang dikemukakan oleh seorang Jerman
yang mengatakan bahwa peradaban di India dimulai setelah terjadinya penaklukan
oleh Arya kulit putih. Bangsa Arya lah yang memperkenalkan bahasa, agama, dan
sastra untuk bangsa India yang bodoh dan terbelakang. Teori ini masih
dipercayai hingga kini oleh banyak orang yang juga percaya bahwa orang India
adalah keturunan orang kulit putih (hal ini telah nyata terbukti salah bahwa
justru kebanyakan orang India mempunyai kesamaan DNA dengan orang Afrika).
Tidak ada satu pun bukti yang menyatakan bahwa invasi orang kulit putih dan
peradaban India adalah salah satu kebudayaan tertua di bumi.
Kenapa sejarawan barat berbohong kepada dunia tentang hal
ini? Karena mereka ingin kita berpikir bahwa kita adalah orang-orang negara
dunia ketiga yang primitif yang memang seharusnya dikolonialisasi dan
diberadabkan oleh mereka. Kenyataannya adalah ketika kota-kota dan universitas
tumbuh pesat di Afrika, Asia, dan bahkan di Amerika Latin, Eropa masih
berkembang dan mencoba untuk berhubungan dengan dunia. Jika tidak ada satu pun
orang Persia, Ethiopia, India, Cina, Arab, dll yang mengajarkan orang Eropa
mengenai matematika, astronomi, arsitektur, atau menulis/membaca, maka tidak
akan ada peradaban Romawi atau Yunani.
Ketika Eropa mengalami zaman kegelapan, peradaban di
belahan dunia lainnya tengah mengalami perkembangan pesat dalam pendidikan dan
perdagangan. Orang-orang di Harrapa telah mempraktekan yoga, membangun kota
dengan sistem pengairan, pengobatan, dan ilmu perbintangan. Jalur Sutra
terbentang antara Cina melewati Asia Selatan, Timur Tengah dan sampai Afrika,
dengan beragam orang yang berdagang dan dengan beragam bahasa. Terdapat
referensi dalam Injil yang menyatakan bahwa Raja Solomon (Sulaeman-red)
mengimpor kayu sandal ke kuilnya di Ethiopia. Kayu Sandal hanya ada di India,
dengan begitu hal ini menunjukan bahwa telah ada komunikasi antara orang-orang
di seluruh dunia. Di Meksiko, terdapat peninggalan-peninggalan patung Afrika,
Cina dan India, yang membuktikan bahwa telah ada interaksi jauh sebelum
Columbus, dan jauh sebelum barat mengkolonialisasikan dunia.
Ada banyak buku-buku politik yang mendiskusikan
pergerakan kemerdekaan India melawan Inggris atau penggerakan di tahun 1960-an
di seluruh dunia adalah di mana orang-orang kulit hitam memberontak melawan
rasisme. Hal ini penting untuk dibaca mengenai rasisme. Sejarawan barat
berusaha meyakinkan kita bahwa orang kulit putih membawa dunia bersatu setelah
kolonialisasi dan bahwa orang-orang asli Afrika, Asia, dan Amerika tidak pernah
saling mengetahui satu sama lain. Hal ini sama sekali tidak benar. Yunani,
Romawi, dan Arya, bukan satu-satunya yang beradab dan memperadabkan dunia. Ini
perlu diteliti lebih lanjut.
Pertanyaan ini tentang Hare Khrisna. Maukah kamu
menjelaskan, moralitas (atau hanya fashion) dari Hare Khrisna yang dicuri oleh HC/Punk
di AS?
Hare Krishna menjadi begitu fashionable pada tahun 90-an
ketika band seperti Shelter dan 108 menjadi terkenal. Banyak dari fans kulit
putih mereka memutuskan memulai mengenakan tasbih dan membawa Bhagavad Gita.
Mengenakan benda-benda sakral (seperti tasbih Rudaksha atau kaos bergambar
Khrisna) adalah sangat tidak hormat. Sangatlah tidak hormat sekali dengan
mengubah sejarah, budaya, dan kepercayaan sebuah bangsa menjadi hanya sekadar
fashion.
Jika anak-anak kulit putih tertarik dengan Hindu, maka
mereka dapat membaca buku. Tetapi mereka malah menghabiskan uang mereka untuk
fashion yang seharusnya dapat dipergunakan untuk menolong kemiskinan di Asia
Selatan. Atau mereka dapat mendonasikan uang mereka untuk organisasi-organisasi
di negara-negara dunia pertama yang mempromosikan hak asazi manusia untuk
kepercayaan minoritas seperti Sikh, Hindu, dan Islam. Ada banyak orang dari
Asia Selatan dan Arab yang diserang dan terbunuh setelah kejadian 9/11.
Orang-orang kulit putih yang mengetahui bahwa orang-orang ini haruslah
ditolong, bisa dengan memberikan penyuluhan bagi orang kulit putih lainnya yang
ingin menyerang minoritas. Hal tersebut lebih baik daripada menghabiskan uang
mereka untuk fashion.
Apa pendapat kamu mengenai hegemoni hc/punk AS terhadap
scene hc/punk di negara dunia ketiga? Apakah hegemoni tersebut didukung oleh
logika “mainstream”?
Kita seharusnya tidak melihat orang kulit putih
Amerika/Eropa untuk kepemimpinan ataupun inspirasi. DIY eksis di seluruh dunia
jauh sebelum punk kulit putih menemukan istilah DIY. Seperti yang saya katakan
sebelumnya, kita mempunyai peradaban yang begitu maju sejak beribu-ribu tahun
lalu. Jika tidak ada orang Afrika, Asia, dan orang asli Amerika, maka orang
kulit putih tidak akan dapat belajar bertahan di Eropa dan Amerika. Kebanyakan
orang-orang dunia ketiga bertahan dengan DIY jauh sebelum kolonialisasi.
HC/Punk dunia ketiga tidak memerlukan HC/Punk dari dunia pertama untuk membantu
mengorganisir scene mereka atau belajar tentang rekaman atau clothing DIY.
Bagaimana hal ini menghentikan penghancuran dunia ketiga?
Apakah hal tersebut membantu orang-orang yang tertindas? Negara dunia pertama
tidaklah memahami pengalaman negara-negara dunia ketiga. Sebagai contoh, punk
kulit putih di negara dunia pertama yang menolak pendidikan tidak dapat
memahami bagaimana seseorang di negara dunia ketiga bisa buta huruf dan tidak
mendapat pendidikan yang layak. Kondisi mereka tidaklah sama.
Masalah lainnya ialah orang-orang yang ingin “membawa
punk ke seluruh dunia” atau “ingin mengajarkan DIY”. Lihatlah seperti di India
yang terdapat 300 juta orang miskin yang dalam satu harinya menghasilkan kurang
dari $1 dollar. Apakah musik punk amat penting ketika kebanyakan orang tidak
dapat membeli rekaman, gitar ataupun pakaian?
Pertama, menangani masalah adalah hal yang lebih penting
: melawan kemiskinan, persamaan gender, memperbaiki pendidikan. Ketika
permasalahan ini telah bisa ditangani, dan masyarakat telah mendapatkan makanan
dan pakaian yang layak, maka kamu baru bisa berbicara tentang musik (yang mana
begitu mewah).
Hal menganggu lainnya ialah punk-punk dari negara pertama
yang ingin mengunjungi negara dunia ketiga untuk “mengajarkan DIY”. Orang-orang
negara dunia ketiga tidaklah bodoh, dan tidak perlu diajari oleh orang barat. Seperti
salah satu contohnya ialah ketika seorang teman saya mengatakan bahwa
orang-orang belajar mengenai isu vegetarianisme melalui band HC yang bernyanyi
mengenai animal rights. Tipikal punk seperti dia percaya bahwa HC diperlukan
untuk mengajari orang-orang di seluruh dunia.
Padahal lebih dari 2500 tahun lalu, Budha berkelana melewati
Nepal dan India sambil mengajarkan bagaimana menghargai binatang. Hindu yang
lebih tua 5000 tahun juga mempromosikan ide-ide vegetarianisme. Di Afrika
terdapat tradisi seni yang bisa dikatakan DIY. Para pengamen berkelana dari
desa ke desa dan menyanyikan lagu atau memainkan instrumen – semuanya dengan
etika yang kini dikenal sebagai DIY. Mengapa kita harus belajar dari scene
HC/Punk barat yang hanya berusia 30 tahun ketika orang-orang kulit berwarna
telah mengenal pengetahuan ini jauh lebih lama?
Sebelum terbunuh, Malcolm X mempromosikan ide-ide yang
mengajak agar orang-orang negara dunia ketiga tidak memerlukan kepemimpinan
dari orang kulit putih. Ia membangun persahabatan dengan bangsa-bangsa Afrika
dan Arab untuk mendukung orang-orang yang terjajah. Hal seperti ini terjadi
sebelum kolonialisasi – kerjasama antara beragam orang tanpa adanya superioritas
salah satu pihak, dan setiap orang saling memperlakukan satu sama lain dengan sama.
Saran saya untuk anak-anak di Indonesia yang membaca zine
ini adalah agar membangun pertemanan dengan orang-orang di negara dunia ketiga
lainnya. Cobalah hubungi orang-orang/scene di negara lain di Asia dan Amerika,
atau orang-orang kulit berwarna di Amerika Utara. Kamu akan menemukan
kecerdasan, kearifan, dan ketulusan di antara orang-orang kulit berwarna di
seluruh dunia sama seperti dengan yang kamu temukan pada punk kulit putih,
bahkan lebih baik.
Di AS, orang-orang kulit putih berpikir bahwa AS adalah
negara yang paling baik dan bertanggung jawab untuk memberadabkan orang-orang
di belahan dunia lainnya. Mereka mempunyai kepentingan menyebarkan budaya barat
ke seluruh dunia. Seorang teman saya mengunjungi keluarganya di Asia dan
melihat juga scene punk di negara asalnya tersebut. Dia mengatakan bahwa ketika
band-band kulit putih datang ke negaranya, mereka mendapat respect yang lebih
daripada band yang berasal dari negara lainnya di Asia. Hal ini sungguh bodoh!
Tolong JANGAN perlakukan orang asing berkulit putih seperti seorang raja,
karena dengan begitu supremasi kulit putih akan berlanjut. Mereka terus
berpikir bahwa orang-orang negara ketiga ada orang-orang yang tunduk dan orang
kulit putih itu seperti mempunyai hak untuk berlaku layaknya rockstar.
Kalau begitu saya ingin menanyakan bagaimana pendapatmu
mengenai Straight Edge yang hanya fokus pada animal rights tetapi tidak banyak memberikan
perhatian pada masalah kemanusiaan atau kapitalisme? Apakah hal ini berkaitan
dengan Hare Krisna yang saya tanyakan sebelumnya?
Saya adalah seorang yang bebas drug ataupun alkohol, dan
juga seorang vegetarian, tetapi saya paham dengan pertanyaanmu. Kembali pada
apa yang saya katakan sebelumnya tentang mengapa punk dunia ketiga seharusnya
TIDAK mengekor pada punk kulit putih di negara dunia pertama. Punk-punk kulit
putih tidaklah mempunyai masalah yang begitu nyata, sehingga mereka memfokuskan
perhatiannya pada hal-hal yang tidak mengancam seperti musik. Sejak scene kulit
putih tidak mempunyai masalah-masalah yang nyata, mereka dapat memilih
permasalahan apa yang ingin mereka perhatikan atau enyahkan. Jadi, ada banyak
anak kulit putih yang tidak mempedulikan kapitalisme tetapi hanya concern pada
sxe dan animal rights.
Akan saya jelaskan masalah saya dengan Hare Krisna. Saya
mempraktekan hindu, tetapi Hare Krisna tidak menyebut diri mereka Hindu. Mereka
bilang mereka berpisah dengan Hinduisme. Mereka juga berusaha untuk menarik
pengikutnya dari orang-orang kulit putih dan untuk mendapatkan uang mereka
menjual buku, dll. Pendiri organisasi ini pernah berkomentar dalam buku-buku
Hindu, yang mana saya tidak setuju dengan pendapatnya (terutama komentarnya
mengenai perempuan).
Scene punk kulit putih tidak terlebih dahulu menelaah apa
yang mereka lakukan. Jika sebuah band mengatakan suatu hal adalah keren, lalu
scene akan fokus terhadap hal tersebut. Baik itu band-band, penulis zine, dan
yang lainnya sebenarnya dapat menggunakan pengaruh mereka untuk mendorong scene
melakukan sesuatu yang lebih positif, tapi mereka tidak melakukannya. Mereka
hanya mendorong scene untuk fokus pada animal rights sekaligus tidak mempedulikan
isu-isu kemanusiaan, atau mereka mendapatkan apa yang mereka curi dari budaya
negara dunia ketiga tetapi mereka tidak menganalisa apa yang mereka curi itu. Saya
ingin mengatakan hal ini lagi untuk punk di negara dunia ketiga – kamu tidak
perlu menjadi imitasi scene negara dunia pertama.
Siapa yang paling berpengaruh bagi hidup kamu? Apa buku
atau penulis favorit kamu sekarang?
Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab karena ada
banyak orang dan pengalaman yang berpengaruh bagi hidup saya. Namun saya akan
menuliskan beberapa buku yang mempengaruhi pemikiran saya :
Everybody was kung fu fighting : Afro-Asian connections
and the myth of cultural purity.
From Babylon to Timbuktu: a history of the ancient
Black races.
Forbidden Archaeology (a shorter version of this book
is The hidden history of the human race)
Myth of the aryan invasion of India
Autobiography of Malcolm X
Plant roots: 101 Reasons why the human diet is rooted
exclusively in plants
Food for the Gods: vegetarianism and the world's
religions
1421: the year China discovered America
The darker nations: a people's history of the 3rd world
Perkembangan Zine Pada Komunitas Hardcore/Punk Di Bandung
Kalau tidak membaca tulisan Karib tentang sejarah scene HC/punk Jakarta,
mungkin saya lupa pernah menyusun sebuah makalah tentang perkembangan zine di
komunitas HC/Punk Bandung. Tulisan ini adalah bagian terakhir dari makalah yang
saya susun sekitar tiga tahun yang lalu, dalam rangka memenuhi kewajiban
sebagai mahasiswa (halah, anjing!!). Kalau tidak salah tugas untuk mata kuliah
Pengantar Ilmu Komunikasi. Data-data yang saya gunakan untuk menyusun makalah
ini pastinya jauh dari lengkap, baik data tulisan maupun lisan. Saya pun lupa
siapa saja orang-orang yang pernah diwawancarai karena saya tidak pernah
melakukan wawancara secara formal, menodongkan recorder dan menanyakan
pertanyaan yang sebelumnya sudah disusun. Pastinya lingkup penelitian kecil ini
di Bandung. Kalau ada komplen sorry-sorry aja karena dulu akses saya terhadap
sumber data sangat kurang dan waktu pengerjaan yang hanya satu bulan. Atau
kalau mau komplen, tinggal kasih tahu bagian mana yang salah, mungkin kalau ada
waktu lagi saya ingin menyusun kembali tulisan ini, meskipun pernah ada juga
yang bikin skripsi dengan bahasan yang sama...jadi kalau ada tanggapan tulis
aja...
Introduksi
Sebagai salah satu bentuk media massa, majalah mempunyai
fungsi pokok yakni sebagai sumber informasi dan sebagai fungsi komunikasi.
Menurut Dominick, klasifikasi majalah dibagi ke dalam lima kategori utama,
yakni : General consumer magazine (majalah konsumen umum), Business
publication (majalah bisnis), Literacy reviews and academic journal
(kritik sastra dan majalah ilmiah), Newsletter (majalah khusus terbitan
berkala), dan Public relations magazines (majalah humas).
Dalam makalah ini yang menjadi pokok utama bahasan adalah
zine yang menjadi media komunikasi khususnya di kalangan komunitas HC/Punk di
Bandung. Tema mengenai zine ini diangkat karena dianggap sebagai fenomena yang
cukup menarik yang berada diluar media komunikasi massa mainstream lainnya. Jika
dimasukkan ke dalam klasifikasi Dominick, bisa termasuk ke dalam kelompok
newsletter atau majalah khusus terbitan berkala walaupun ada sedikit yang
berbeda. Dijadikannya zine ini sebagai tema utama dalam makalah ini karena
merupakan sebuah fenomena yang menarik, dimana dalam penerbitannya ternyata
membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap kondisi interaksi dan pemikiran
di kalangan komunitas tempat zine itu muncul.
Dilihat dari kemunculannya yang berasal dari orang-orang
di kalangan scene HC/Punk, perlu juga ditelaah lebih lanjut. Dimana
kemunculannya itu berasal di sebuah komunitas yang sering disebut sebagai
komunitas underground. Sehingga perlulah diterangkan sedikit mengenai komunitas
HC/Punk ini, agar dapat dipahami mengenai munculnya zine sebagai media
komunikasi.
Digunakannya zine sebagai media komunikasi dalam scene HC/Punk
menjadi sesuatu yang menarik karena sebagai komunitas minor yang berada dan
hidup di jalanan di kota-kota besar ternyata mampu mengorganisir dan dengan
keterbatasannya itu bisa melakukan penyebaran informasi dengan efektif.
Zine Sebagai Media Komunikasi dan Ekspresi
Informasi yang dikomunikasikan dalam media zine di
kalangan scene HC/Punk sekarang ini isinya sangat beragam seiiring dengan
perkembangan jaman. Zine dibuat oleh setiap orang di kalangan scene HC/Punk itu
sendiri, jadi setiap orang mempunyai kebebasan untuk membuatnya. Oleh karena
itu isi zine sendiri tidak ada patokan atau batasan, karena setiap orang
mempunyai kebebasan untuk mengisi zinenya itu dengan segala hal yang diinginkan.
Apapun yang dimuat dalam zine itu tergantung dengan sang pembuatnya.
Dari zine-zine yang dibuat oleh scene HC/Punk hampir
semuanya isinya sungguh bebas. Tidak adanya sensor atas segala isi yang ingin
ditampilkan. Dari mulai gambar-gambar, tulisan, sampai lay out, semuanya tidak
ada batasan. Sehingga merupakan sesuatu yang sangat lumrah jika ditemukan
kata-kata yang sungguh kasar dan sarkasme dalam tulisan-tulisan di zine-zine
itu atau gambar-gambar yang oleh orang timur dianggap tidak senonoh.
Selain sebagai media komunikasi, seringkali zine
dijadikan media ekspresi sehingga maksud, tujuan dan perasaan yang ingin
diungkapkan oleh pembuatnya dalam zine adalah tanpa batas. Mungkin sesuatu yang
membatasi ekspresi itu hanyalah kesadaran si pembuatnya. Untuk menilai apakah
zine ini baik atau tidaknya itu semua dikembalikan kepada pihak yang
membacanya. Karena esensi dari zine yang tumbuh di kalangan scene HC/Punk ialah
kebebasan sebab tidak adanya otoritas yang boleh mencampuri ekspresi manusia.
Ketika keadaan sekitar memungkinkan manusia untuk
mengekpresikan perasaannya maka ia akan segera mencari media untuk
mengekspresikannya. Begitupun dengan zine, di mana seorang Punk ingin
mengekspresikan perasaan ataupun ingin menyampaikan pemikirannya melalui
tulisan mengenai suatu hal maka zine bisa dijadikan media itu selain tentu saja
musik. Sehingga di saat Punk dengan berbagai ide, pemikiran, dan ideologinya
merasa usaha untuk mencapai tujuan yang ingin ia raih ialah melalui zine ini,
maka dengan kebebasan yang dimiliki, ia akan membuatnya. Oleh karena itu, isi
dari zine-zine yang ada di kalangan HC/Punk selain isinya mengenai segala hal
yang berbau musik HC/Punk, mereka pun memuat tulisan-tulisan yang merupakan
tanggapan atas keadaan sekitar. Banyak propaganda-propaganda sesuai dengan
ideologi si pembuatnya yang dimuat dalam zine termasuk propaganda politik,
dalam hal ini kebanyakan berkaitan dengan anarkis dan anti kapitalis. Walaupun
ada sedikit kesamaan munculnya zine di berbagai daerah memunculkan kekhasannya tersendiri
sesuai dengan situasi kelokalannya masing-masing.
Jika saja adanya peraturan atau perundang-undangan yang
melarang dibuatnya tulisan-tulisan yang dianggap melawan pemerintah, itu tidak
pernah menjadi kendala berarti dalam pembuatan dan penyebaran zine. Hal ini
karena selain pembuatan dan penyebarannya yang terbatas ataupun dijual di
tempat-tempat tertentu, biasanya sang pembuat tulisan akan menggunakan nama
samaran atau inisial agar identitasnya tidak diketahui umum. Mungkin jika kita
melihat peraturan di negara-negara barat yang menjamin kebebasan berekspresi,
maka tidak aneh jika isu-isu politik yang kontra pemerintah bisa disebarkan
secara luas. Coba bandingkan dengan di Indonesia yang peraturannya serba tidak
jelas.
Contohnya ialah zine Profane Existence yang dibuat oleh
sebuah kolektif yang namanya sama dengan nama zinenya. Profane Existence zine
isinya kebanyakan adalah tulisan-tulisan mengenai tanggapan atas keadaan sosial
politik di AS. Dimana informasi yang dimuat dalam zine itu salah satunya berisi
data-data kebobrokan AS dalam perang di Timur Tengah, selain opini-opini dari
perorangan yang menulis berbagai hal. Ada juga propaganda-propaganda untuk
melakukan pemboikotan atau ajakan berdemo menentang kesewenang-wenangan
pemerintah. Sebagian besar isu-isu yang diangkat dalam zine ini adalah isu
sosial politik yang sedikit banyak berkaitan dengan scene HC/Punk. Hal ini
tentu saja menunjukkan bahwa orang-orang dari kalangan scene HC/Punk bukanlah
sekelompok pengacau atau pembuat onar, tetapi mereka juga mampu untuk berpikir
ilmiah dan berperilaku intelek walaupun dengan bahasa mereka sendiri. Selain
mengangkat isu sosial politik, zine yang dikeluarkan di scene Hardcore/Punk ada
juga yang mengangkat isu animal liberation, vegetarian, feminisme, straight
edge, pencemaran lingkungan, globalisasi dll.
Pada umumnya zine yang dibuat perorangan ataupun kolektif
sering berformat fotokopian, sering juga disebut sebagai xeroxzine. Hal
ini dimaksudkan agar biaya yang digunakan tidaklah besar karena tinggal
memfotokopi. Paling penting dari penerbitan zine ini ialah bahwa mereka yang
berasal dari scene Punk tidaklah pernah menganggap adanya aturan atau regulasi
atas hak cipta, sehingga mereka sendiri –bisa dikatakan- tidak pernah memberi
zine mereka label hak cipta (copyright). Bahkan untuk sebagian zine, si pembuat
menulis ajakan untuk memperbanyak zinenya agar informasi yang ada di zine itu
bisa disebarkan seluas-luasnya. Sehingga dalam penyebarannya tidak bisa diawasi
secara jelas karena setiap orang yang memegang zine bebas untuk memperbanyak
dan kemudian menyebarkannya. Ini adalah salah satu kunci keefektifan zine
dengan tanpa copyright, yang mampu mengkomunikasikan informasi kepada
semua pihak yang merasa tertarik.
Zine di Komunitas Hardcore/Punk Bandung
Musik Hardcore/Punk sendiri diperkirakan telah ada di
Bandung sejak pertengahan tahun 1970-an. Sekitar pada tahun 1980-an musik Punk
dapat dipastikan telah ada di Indonesia karena orang-orang yang pernah
berkecimpung dalam scene Punk pun masih bisa dimintai keterangannya. Musik Punk
mulai berkembang seiring dengan trend musik new wave ataupun tari kejang (breakdance)
yang sempat mewabah pada tahun 1980-an.
Pada pertengahan tahun 1990-an bisa dikatakan baik musik
Punk, Hardcore, maupun musik underground lainnya mengalami perkembangan yang
cukup berarti. Hal ini dibuktikan dengan telah adanya beberapa band yang mengeluarkan
album secara independen, dan juga mulai marak diadakannya acara-acara musik
underground. Pada saat itu Punk di Bandung bisa katakan masih sekedar trend
musik, belum dimengerti secara menyeluruh.
Komunitas Punk mulai jelas terlihat sekitar tahun-tahun
1994-1995an. Panggung-panggung untuk musik ini pun semakin banyak dari mulai
acara tujuhbelas agustusan sampai acara yang diorganisir secara profesional.
GOR Saparua adalah satu saksi bisu berkembangnya Punk di Bandung. Pada
tahun-tahun di akhir 90-an, terutama di hari minggu sering diadakan acara musik
underground. Tidak jarang dalam sebuah acara disertai dengan kericuhan seperti
perkelahian yang sering berujung pemberhentian acara oleh pihak berwenang
karena situasi dianggap sudah tidak kondusif. Diantaranya adalah muncul acara
seperti Gorong-gorong 1&2, juga Punk Rock Party 1&2. Acara-acara itu
juga melahirkan band-band Punk Rock semisal Keparat, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dll. Pada waktu itu komunitas
Punk belum diakui oleh masyarakat seperti sekarang karena hanya dianggap
sebagai sekelompok anak muda bergaya berandalan yang kerjaannya hanya
mabuk-mabukan.
Saat itu Suharto masih berkuasa, dan militer masih sangat
ditakuti, tidak ada yang berani mengritik kebijakan pemerintah apalagi menghina
aparat. Tetapi hegemoni orde baru mungkin tidak berlaku bagi komunitas
Punk/Hardcore. Seakan-akan tidak ada hukum yang berlaku, setiap penampilan
panggungnya band Punk berani menghina-hina keotoriteran pemerintah ataupun
mencaci aparat karena sewenang-wenang. Subversif mungkin pantas dikatakan untuk
kelakuan seperti itu pada saat orde baru, tetapi toh tidak ada tanggapan serius
dari pihak berwenang karena mungkin Punk pada saat itu masih dianggap sampah.
Salah satu komunitas Punk di Bandung ialah sekelompok
anak Punk yang sering nongkrong di belakang pusat perbelajaan Bandung Indah
Plaza (BIP) yang pada saat itu tengah ramai-ramainya karena belum ada mall
saingan. Dari komunitas Punk yang sering disebut Barudak PI itu lahirlah sebuah
record label yang diberi nama Riotic Record pada tahun 1997. Berawal dari
keinginan Chaerul, Dadan “Ketu”, Pam, Azis, Awing.dkk untuk mendirikan sebuah
record label yang bisa menjembatani keinginan band-band HC/Punk untuk membuat
rekaman, jadilah record label itu didirikan beserta dengan distro(distribution
outlet)nya.
Pada awal pendiriannya, Riotic record dan distro sering
berpindah-pindah. Seperti pernah memilih di daerah Riung Bandung, Cicadas,
Melong Green dan belakang BIP sendiri. Pada saat itu Riotic distro menjual
berbagai pernak-pernik band, semisal t-shirt, kaset, dan stiker. Dari usaha
untuk menjual pernak-pernik band itu, dibuatlah katalog barang-barang yang
dijual di Riotic sebagai cara untuk menginformasikan kepada komunitas Punk
lainnya. Dari munculnya katalog itulah cikal bakal dibuatnya zine dan newsletter
Punk di Kota Bandung, mungkin juga bisa dikatakan di Indonesia.
Pada awalnya isi dari katalog itu hanya berisi daftar
barang-barang yang dijual di Riotic dan hanya sedikit tulisan tentang Punk pada
kertas katalog, itu pun agar ruang kosong di katalog tidak percuma. Setelah
mempunyai jaringan di antara komunitas baik di beberapa kota besar di Indonesia
maupun di luar negeri, mereka sering bertukar informasi maupun berupa barang
dan salah satunya adalah dikirimnya sebuah zine -yang oleh anak-anak Riotic sendiri
baik isi maupun lay outnya disebut jelek- oleh komunitas Punk dari Singapura.
Setelah membaca dan mengamati tampilan zine dari Singapura itu, beberapa orang
di Riotic sepakat untuk membuat zine. Dan lahirlah zine/newsletter pertama di
kalangan Hardcore/Punk di Indonesia itu, namanya Submissive Riot.
Tahun
1998, di Indonesia apalagi di Bandung pembuatan zine belumlah membudaya seperti
sekarang. Hanya ada satu-dua zine yang dibuat oleh komunitas underground Ujung
Berung seperti Revogram dan Mindblast, akan tetapi karena peredarannya sangat
terbatas sehingga tidak terlalu bisa dikatakan sebagai topangan yang jelas atas
munculnya budaya pembuatan zine di Bandung. Paling-paling newsletter hanya bisa
ditemukan di mesjid ketika jumatan ataupun di kampus-kampus, dan tidak pernah
ada info mengenai anarkisme, pemboikotan korporasi, etos DIY, dan Punk Rock di
newsletter mesjid.
Submissive
Riot dibuat oleh tiga orang, yakni Pam, Linggo, dan Behom. Awalnya mereka
membuat Submissive Riot karena merasa tertantang untuk membuat newsletter/zine
yang lebih bagus dari zine yang dikirim oleh teman-temannya di Singapura.
Isinya berisi hal-hal yang pada saat itu bisa dikatakan tidak umum, lebih
tepatnya seluruh isinya adalah propaganda. Anarkisme bisa dikatakan sebagai
ideologi yang sangat mempengaruhi tulisan-tulisan mereka, tidak adanya otoritas
yang mendominasi adalah pokok utama tulisan yang mereka buat. Juga upaya
pemboikotan perusahaan siap saji McDonnald yang dianggap sebagai perusahaan
kapitalis cabang dari negara komprador AS pada saat itu.
Submissive
Riot terbit setiap bulan, dalam setiap penerbitannya tiga sekawan itu
paling-paling hanya membuat sekitar 30-40 eksemplar dengan format fotokopian.
Setiap eksemplar biasanya hanya berisi 4-8 halaman ukuran A5. Zine atau
newsletter itu dijual seharga Rp. 500,- sebagai ganti biaya produksi. Peredaran
zine ini dijual hand-to-hand kepada teman-teman mereka sendiri, dan
karena pada saat itu merupakan sebuah fenomena yang baru pada kultur Punk di
Bandung sehingga setiap kali penerbitan selalu habis. Untuk setiap Submissive
Riot yang dibeli selalu dianjurkan untuk memfotokopinya lagi untuk disebarkan,
jadi jika setiap edisinya yang diketahui hanya ada sekitar 30-40 eksemplar
tetapi untuk keseluruhan Submissive Riot yang tersebar tidaklah dapat diketahui
jelas. Oleh karena itu penyebaran zine ini cakupannya sungguh luas, selain
karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk memperbanyaknya, distribusi zine
ini juga disebarkan diantara komunitas-komunitas Punk di kota-kota besar di
Indonesia. Submissive Riot dapat tersebar di beberapa kota selain Bandung
seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Lampung, Medan, Pontianak,
bahkan sampai ke Menado dan Ujung Pandang.
Munculnya
Submissive Riot ternyata mendapat respon yang beragam. Pembuatan zine dan
newsletter menjadi mewabah di kalangan scene HC/Punk baik di Bandung maupun
kota-kota lainnya. Karena biasanya komunitas Punk lainnya yang mendapat
newsletter ini, kemudian merasa tertarik untuk membuatnya sehingga ibarat jamur
di musim hujan, pembuatan zine semakin banyak dan meluas. Tentu ini dampak yang
positif, setidaknya budaya tulis dan baca meningkat walaupun hanya untuk
segelintir pihak dalam komunitas.
Sedangkan
tanggapan dari pihak aparat berwenang tidak ada sama sekali. Hal ini juga cukup
menarik karena pihak pemerintah serta aparaturnya sering menjadi objek
tulisan-tulisan mereka ini, apalagi ditulis dengan bahasa yang sarkasme,
ternyata tidak memberi respon apa-apa. Bahkan jika digolongkan ke dalam ‘selebaran
gelap’ subversif yang menghasut pun, newsletter ini tidak masuk kategori BAKIN.
Penyebabnya ternyata tulisan-tulisan dalam Submissive Riot tidak dianggap
secara serius atau bahkan dianggap bualan sesaat baik oleh pihak pemerintah
ataupun masyarakat awam lainnya. Punk yang pada waktu hanya dianggap sebagai
sekelompok anak muda yang berpakaian kotor seperti gembel menjadikan dikotomi
itu melekat dalam benak masyarakat. Sehingga disaat mereka mengeluarkan
pernyataan-pernyataannya melalui tulisan, hal itu tidak ditanggapi sama sekali.
Submissive
Riot hanya bertahan sekitar satu tahun, atau sekitar 12-13 edisi. Alasan
berhentinya pembuatan zine ini kurang jelas tetapi bisa jadi karena tiga orang
pembuatnya yang mulai memasuki kegiatan politik praktis. Sekitar tahun 1999,
mereka bertiga telah dikenal sebagai “corong” PRD, bahkan bisa menempati
posisi-posisi strategis dalam aliansi gerakan kota.
Selanjutnya
akan dibeberkan mengenai salah satu zine yang cukup legendaris di kalangan
scene Hardcore/Punk baik di Bandung maupun di kota lainnya. Zine yang baik
format maupun tulisan-tulisannya banyak diperbincangkan bahkan diperdebatkan.
Inilah zine yang ternyata membawa sang editornya ke pintu karir yang
menjanjikan,ya inilah Tigabelas Zine.
Tigabelas
zine mulai dibuat pada tahun 1998 oleh Arian yang pada waktu itu dikenal
sebagai vokalis band yang menjadi ikon HC Indonesia, Puppen. Arian sebagai
editor dalam pengerjaannya dibantu oleh Ucok Homicide sebagai kontributor
tetap. Setelah kemunculan Submissive Riot di tahun yang sama, Arian
membuatzine sebagai proyek sampingannya
selain sibuk di bandnya. Edisi pertama Tigabelas zine terbit pada bulan Agustus
1998.
Format
Tigabelas zine adalah fotokopian ukuran A5 dan dihadirkan dengan lay out yang eye
catching setiap halamannya yang rata-rata berjumlah sekitar 60 halaman
setiap edisinya. Terbitnya zine ini sangat tidak teratur, tergantung nasib sang
editor, dan karena ini bukanlah sebuah penerbitan majalah yang terorganisir
dengan baik jadi tidak ada deadline dalam pengumpulan materinya. Bahkan
rentang waktu antara Tigabelas edisi ke edisi berikutnya selalu terlambat dari
jadwal yang ditentukan sebelumnya. Tetapi karena zine ini merupakan sebuah
fenomena yang sungguh menarik dalam dunia penerbitan media sehingga selalu di
tunggu-tunggu oleh pembacanya baik dari kalangan scene Hardcore/Punk maupun
luar.
Kolom-kolom
yang ada dalam zine ini antara lain adalah :
Kolom
13. Dalam kolom ini terdapat opini tamu yang berasal dari teman-teman editor
sendiri di scene HC/Punk di Bandung. Selain berisi opini mengenai perkembangan
HC/Punk, sering juga berisi tulisan berbau politik, puisi, unek-unek, bahkan
dumelan dari sang kontributor.
Scene
Report. Dalam bagian ini berisi laporan-laporan dari perkembangan scene HC/Punk
di luar kota Bandung, seperti dari Malang, Bekasi, Yogyakarta bahkan dari
kota-kota di negara-negara Asia Tenggara. Laporan ini di dapat oleh sang editor
dengan mengadakan kontak langsung dengan scenester di kota-kota itu,
bisa sang editor datang langsung ke kota-kota itu ataupun scenester dari luar
kota yang memberi laporan sendiri agar kegiatannya diliput, ataupun melalui email
jika sang sumber berasal dari luar negeri.
Interview.
Dalam bagian ini memuat hasil interview/wawancara dengan band, editor zine atau
orang-orang yang berkecimpung dalam scene HC/Punk lainnya. Interview dilakukan
oleh sang editor dengan bertemu langsung si sumber, ataupun melalui email jika
tempat si sumber berada di daerah yang cukup jauh, semisal interview dengan
band dari New York, maka interview dilakukan via email. Selain itu, editor bisa
juga memuat hasil interview dari majalah lain seperti hasil interview band The
Business oleh majalah punk Maximum Rock’N’Roll, hasil interview itu dimuat
dalam Tigabelas zine dengan mencantumkan pula sumbernya.
Artikel.
Tema yang diangkat dalam tulisan di artikel pada zine bermacam-macam, seperti
cerita mengenai tokoh antara lain Mahatma Gandhi dan Wiji Thukul, ataupun tema
mengenai animal liberation, dan juga memuat tentang undang-undang yang menjamin
kebebasan berpendapat yang bahannya di dapat LBH setempat.
Resensi
Rekaman. Isinya adalah resensi rekaman yang dilakukan oleh Arian dan Ucok.
Resensi adalah hal sangat subjektif, karena itu dalam resensi rekaman ini Arian
dan Ucok mengeluarkan pendapatnya atas rekaman-rekaman yang mereka anggap
menarik untuk di resensi. Tidak semua yang diresensi isinya bagus atau memuji
karena terkadang sang peresensi melakukan sindiran dan kritik atas rekaman yang
ia dapat.
Resensi
Majalah dan Buku. Disini Arian dan Ucok melakukan resensi pada majalah atau
buku yang mereka baca. Majalah yang diresensi biasanya adalah majalah atau zine
yang berbau HC/Punk baik dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan buku yang
diresensi tidak hanya buku-buku yang ber’atmosfer’ HC/Punk tetapi juga ada buku
‘serius’ yang mereka resensi semisal buku-buku politik. Salah satunya ialah
buku berjudul Pemikiran Karl Marx, yang masuk resensi dalam Tigabelas zine
edisi ketiga. Selain berisi tulisan-tulisan yang semuanya mempunyai relevansi
tehadap pergerakan scene HC/Punk, zine ini juga banyak menampilkan iklan-iklan
yang masih berbau HC/Punk semisal desain iklan dari riotic record, reverse,
ataupun kampanye-kampanye animal liberation.
Setiap
edisinya Tigabelas zine dijual sekitar Rp.3000 – Rp.5000 tergantung
ketebalannya, untuk mengganti ongkos produksi. Usaha penyebarannya secara hand-to-hand
merupakan cara penjualan yang efektif, selain karena dijual di lingkungan
sendiri, zine pada waktu itu juga masih merupakan (sekali lagi) fenomena baru
di kalangan komunitas scene HC/Punk. Dari setiap edisinya pun zine ini selalu sold
out.
Melalui media zine yang dibuat ini Arian dan Ucok secara
tidak langsung memacu orang-orang untuk membuat zine dan mulai berpikir bahwa
dibalik HC/Punk ada misi dan movement. Selain itu, melalui Tigabelas zine ini
anak-anak muda dipacu untuk tidak hanya menyukai dan mendengarkan hardcore dan
punk saja, tetapi lebih mendalaminya dan ber”attitude” dalam bermusik.
Karena sang editor tidak melabelkan hak cipta pada zine
ini bahkan ia sendiri mengusulkan untuk memperbanyaknya sehingga penyebarannya
sangat luas. Di komunitas scene HC/Punk sendiri baik tertulis maupun tidak,
mereka tidak mengakui adanya hak cipta (copyright). Sehingga bukan
sesuatu yang akan berbuntut masalah jika seseorang memperbanyak rekaman atau
zine dari lingkungan HC/Punk sepanjang tidak untuk mendapat keuntungan.
Respon terhadap zine ini juga bermacam-macam. Banyak
orang di kalangan komunitas musik underground lainnya kemudian mulai membuat zine
juga, dan orang-orang di luar komunitas itu pun mulai melirik media zine
sebagai media komunikasi alternatif.
Zine
yang fenomenal ini hanya sanggup bertahan 4 edisi (terbit tahun 2001), dan
merupakan suatu yang luar biasa pada saat itu dengan penjualan dari 4 edisi
mencapai lebih dari 1000 eksemplar (menurut sang editor). Alasan berhentinya
pembuatan zine ini pun dikarenakan editornya, Arian sibuk dengan kegiatannya
yang lain. Sedangkan Ucok yang pada nomor empat sudah tidak lagi menjadi
kontributor Tigabelas zine, di tahun 1999-2000 Ucok sempat meluncurkan zinenya
sendiri yang diberi nama Membakar Batas.
Arian
sendiri kemudian sempat ikut terlibat dengan pembuatan majalah-majalah yang
dibuat secara independen, seperti majalah Ripple dan Trolley dimana ia menjadi
musik director. Majalah Trolley sendiri akhirnya bangkrut setelah terbit kurang
lebih 10 edisi (edisi terakhir terbit sebanyak 5000 eksemplar) karena kehabisan
modal. Sedangkan majalah Ripple sampai sekarang mampu bertahan dan semakin berkembang,
bahkan dianggap menjadi salah satu majalah avant-garde dalam media
independen. Sekarang ini Arian bekerja sebagai seorang editor di majalah
Playboy Indonesia, setelah sebelumnya sejak tahun 2002 bekerja di majalah MTV
Trax sebagai senior editor.
Zine Hari Ini
Dua zine
yang telah dibahas tersebut bisa dikatakan sebagai pencetus munculnya media
komunikasi cetak yang dibuat secara independen. Baik Submissive Riot maupun
Tigabelas zine merupakan salah satu bentuk media komunikasi alternatif diluar
media yang telah ada sebelumnya.
Setelah
era Submissive Riot dan Tigabelas Zine, muncul zine-zine baru baik dari
kalangan scene HC/Punk maupun dari luar yang merasa tertarik dengan zine
sebagai media baru. Dari orang-orang di kalangan scene HC/Punk kemudian muncul
Kontaminasi Propaganda, Membakar Batas, Puncak Muak, Shaterred, Lysa Masih
Bangun, Akuadalahaku, Emphaty Lies Far Beyond, New Noise, Rebelliousickness,
Cukup Adalah Cukup, Lady Anarchy dll. Kesemuanya itu mengusung tema yang
bermacam-macam seperti Cukup Adalah Cukup dan Lady Anarchy yang menjadikan isu
feminisme sebagai isu utama zinenya, kemudian Emphaty Lies Far Beyond yang
berisi semacam hal semisal globalisasi dan neo liberalisme, dsb. Tetapi kesemua
zine itu sekarang ini bisa dikatakan sudah mati karena berbagai alasan.
Zine generasi terbaru (bisa dikatakan begitu) yang terbit
di scene HC/Punk Bandung sekarang diantaranya Beyond The Barbed Wire, Lapuk,
Hardcore Heroes vs Punk Partisans. Para pembuat zine itu tetap berasal dari
scene HC/Punk yang masih ingin mempertahankan budaya penulisan zine ditengah
gempuran majalah-majalah glossy anak muda yang hanya menjual gaya
hidup.
Beyond The Barbed Wire (selanjutnya BtBW) dibuat oleh
Tremor yang juga mantan vokalis band Rajasinga.Zine yang telah keluar dalam dua edisi ini dicetak rata-rata 100
eksemplar per edisinya, dengan harga edisi pertama Rp 3500 dan edisi kedua
karena dibuat lebih tebal dijual seharga Rp 5000. Dengan adanya jaringan
pertemanan yang cukup baik di dalam scene HC/Punk memudahkan pendistribusian
zine dari kota ke kota. Dalam hal ini Dani mampu membuka jaringan sehingga BtBW
bisa didistribusikan sampai ke berbagai kota di Jawa dan yang paling jauh ialah
kota Menado. Caranya dengan mengirimkan master hasil print BtBW ke teman di
kota lain, kemudian yang menerima master tersebut akan menggandakannya lagi
untuk di sebarluaskan. Sedangkan keuntungan penjualannya seluruhnya untuk
kemajuan scene HC/Punk di kota yang menyebarluaskannya, jadi dari penjualan itu
Dani sama sekali tidak mendapat keuntungan.
Di zinenya, Tremor sebagai pembuatnya dibantu juga oleh
teman-temannya yang lain. Mereka menyumbangkan tulisan-tulisan yang berkesesuai
dengan tema yang diusung BtBW. Format BtBW sebenarnya sedikit mengingatkan
dengan format Tigabelas zine. Di lay out dengan softwear desain secara
rapi dan apik sehingga menghasilkan tampilan yang menarik. Berbeda dengan zine
yang lain, BtBW setiap edisinya mempunyai tema. Pada edisi pertama bertemakan
tentang punk dan definisinya kemudian yang kedua mengambil tema etika DIY. Pada
edisi kedua, Dani memasang iklan, tetapi tidak sembarang iklan yang ia muat.
Hanya iklan yang berasal dari kalangan scene HC/Punk yang mendukung DIY saja
yang bisa terpasang di BtBW seperti PenitiPink dan Kolektif Dor Dar Gelap yang
menawarkan pembuatan pin. Biaya iklan untuk setengah halaman kertas ukuran A5
paling mahal hanya dipatok sekitar Rp 10.000. Uang dari iklan tersebut
sebenarnya adalah untuk menutupi biaya kirim BtBW ke kota lain jadi harga yang
dipatok pun tidak mahal.